The Effort to Increase the Student’s Motivation
in Mathematics Learning with Some Teaching Aids
in Junior High School 5 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
Reviewed by Nurul Husnah Mustika Sari
Nim: 09301241027
(http://nurul-husnah.blogspot.com/)
Sampai saat ini kita masih sering mendengar bahwa siswa merasa takut terhadap matematika. Matematika dianggap sebagai pelajaran yang tidak menyenangkan dan sulit dipahami. Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika adalah dengan proses pembelajaran yang menyenangkan, berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Untuk membantu proses abstraksi siswa dilakukan dengan memaksimalkan bantuan dari guru serta menggunakan media pembelajaran yang sesuai. Sikap siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal external. Pada faktor external, guru harus memotivasi. Siswa SMP berusia 12-15 tahun yang berdasarkan perkembangan kognitive piaget sudah mencapai tahap operasional formal di mana terdapat perubahan pola pikir dari yang semula berpikir konkret menjadi berpikir abstrak.
Proses penelitian dilakukan melalui tiga putaran. Putaran/tahap pertama menggunakan topik kuadrat dan akar kuadrat, tahap kedua menggunakan topik garis sejajar dan yang ketiga adalah teorema Pythagoras.
Pada putaran pertama, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok yang beranggotakan 5 orang dengan kemampuan yang heterogen. Guru memberi pertanyaan, menginstruksikan untuk mendiskusikan kuadrat dan akar kuadrat pada bilangan-bilangan tertentu, guru menjelaskan cara bermain menggunakan kartu. Setiap grup diberi kartu kemudian mengeksplorasi kartu untuk mengerjakan tugas, setiap siswa menukarkan hasil pekerjaannya dengan siswa lain dalam satu grup. Guru memberikan kunci jawaban yang benar. Pertanyaan yang belum dijawab didiskusikan di dalam grup. Jika gagal maka didiskusikan di dalam kelas. Siswa memberikan kesan kesan mengenai keuntungan bermain kartu dalam pembelajaran tersebut. Diketahui bahwa siswa sangat tertarik dan menjadi antusias, menikmati, dan dapat berdiskusi. Kemudian, pada sepuluh menit terakhir guru memandu siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan memberikan tugas yang lain.
Kegiatan kedua adalah berdiskusi mengenai teorema phytagoras. Langkah pertama, guru menyiapkan alat peraga yaitu papan, karet gelang, dan lembar kerja siswa, membentuk kelompok diskusi yang maksimum terdiri dari empat orang dengan kemampuan yang beragam. Untuk implementasi, disediakan benang, kayu, tongkat dan alat ukur sebanyak kelompok yang ada.
Pada kegiatan ini, siswa melakukan eksperimen dengan mengukur panjang kedua sisi siku-siku dan sisi hipotenusa. Kemudian mereka menyimpulkan teorema pythagoras dan rumus pythagoras. Guru memberikan contoh implementasi pada kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ketiga mengenai garis sejajar. Alat-alat yang harus dipersiapkan anatara lain paku, karet gelang, sepasang penggaris segitiga, kertas transpara, lembar kerja siswa, busur derajat, pada subtopik garis sejajar, guru membuat garis sejajar di papan tulis, siswa disuruh untuk membuat garis yang sejajar dengan garis yang dibuat oleh guru. Agar siswa lebih paham, siswa diberi tugas untuk membuat garis yang sejajar dan tidak sejajar pada lembar kerja siswa. Setelah itu, siswa mendiskusikan definisi garis yang sejajar dan bagaimana cara meneggambarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karet gelang, bermain kartu, lembar kerja siswa, kertas transparan, benang, kayu, dapat digunakan sebagai media pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan agar guru matematika SMP, menggunakan variasi metode pembelajaran untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan untuk menghindari kejenuhan siswa dan selalu menggunakan alat peraga secara optimal untuk menjelaskan konsep, ide, dan definisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar