Filsafat
mengkaji hubungan apa saja yang ada dan yang mungkin ada. Hubungan antara waktu
dan hati yaitu kegembiraan di waktu yang akan datang tidak mampu menghapuskan
kesedihanmu sekarang, namun kesedihanmu di waktu yang akan datang akan
menghapuskna kegembiraanmu sekarang. Dengan belajar berfilsafat kita akan
merangkai pilar-pilar dan menghubungkan komponen-komponen filsafat yaitu dengan
cara membaca dengan keihlasan, sabar, tawakal, dan istiqomah sehingga bisa
mendapatkan ilmu. Cara belajar filsafat adalah dengan silaturahmi.
Silaturahminya filsafat adalah bertanya dan menjawab. Karena filsafat itu
muncul dari pertanyaan. Tanpa pertanyaan tidak akan muncul pemikiran.
Hubungan hati dan pikiran yaitu
benar salah, baik benar. Setiap unsur berdimensi. Benar dan salah bagaikan
langit dan bumi. Hidup itu adalah menguji benar dan salah, baik dan buruk,
dikerjakan dan tidak dikerjakan. Kalau hanya satu sisi akan menjadi perusak. Hidup
itu mengisi, antara fatal dan vital. Komponen hidup ada dua yaitu fatal dan
vital. Fatal itu nasib, vital itu ikhtiar. Tetapi fatal itu jatuhnya setelah
vital, yaitu nasib itu terjadi setelah berikhtiar. Manusia ditakdirkan untuk
berikhtiar itu disebut meta.
Pada
elegi digunakan simbolisasi dewa dan daksa bukan Tuhan karena dewa toleran
terhadap pemikiran dan tindakan manusia serta untuk mengurangi resiko melakukan
yang fatal. Senjata yang paling tinggi adalah ilmu. Akan jadi masalah jika
sifat-sifat manusia digunakan untuk menerjemahkan sifat-sifat para dewa.
Konotasi dewa merupakan bahasa analog, yaitu sebagai subjek terhadap subjeknya.
Dirimu adalah subjek dari semua milikmu. Semua sifat jatuh pada suatu objek
atau objek. Sifat tersebut berimplikasi terhadap dua hal yaitu subjek sama
dengan predikatnya atau predikat termasuk di dalam subjeknya. Kalau itu urusan
dunia, tidak ada subjek sama dengan predikat. Tidak ada aku sama dengan aku.
Aku sama dengan aku hanya terjadi di urusan langit. Di dunia aku adalah
pikiranku, kegiatanku, yang tidak akan pernah sama dengan aku. Maka ketika kau
berada di dunia ini, kamu memiliki sifat kontradiksi. Semua anggota tubuh itu
kontradiksi. Maka engkau konsisten dengan hati dan pikiranmu tindakan itu tidak
akan terjadi di dunia ini, bagi orang yang mengetahuinya. Sifat identitas hanya
terjadi di langit, pikiranmu, atau pengandaian. Tidak ada orang yang persis
sama dengan namanya. Aku yang sekarang tidak sama dengan aku yang tadi. Maka
bahasa matematika adalah bahasa identitas yang dimulai dari pengandaian. Tetapi
matematika anak kecil tidak konkret bersifat kontradiksi. Kontradiksi filsafat
berbeda dengan kontadiksi matematika. Kontradiksi pada matematika, kontradiksi
dari hukum identitas. Hukumnya ialah seberapa jauh ia konsisten.
Dalam
filsafat hubungan antara takdir dan pikiran antara lain takdir yang dipikirkan
dan takdir yang tidak boleh dipikirkan. Jika kau percaya pada takdir maka yang
terjadi itulah yang terbaik bagimu. Hubungan antara motif dengan pikiran yaitu
berani benar, berani salah, tak berani benar, tak berani salah. Hubungan
pikiran dengan hati yaitu benar tidak sombong, benar sombonng, salah tidak
sombong, salah sombong. Hati itu berdimensi. Senang dan tidak senang itu
jauhnya tak terhingga. Komponen hati meliputi senang, tidak senang, khusyuk,
sayang, cinta, dsb. Struktur bangunan keilmuan itu berdimensi 3, bahkan kalau
sudah sampai pada tataran meta maka berdimensi empat. Dimensi keempatnya adalah
spiritualitas.
Objek
filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Hubungan yang ada dan yang
mungkin ada adalah yang mungkin ada masih mungkin untuk diadakan. Yang nanti
engkau ketahui itu merupakan yang mungkin ada. Yang aku pikirkan dan akan
kukatakan adalah apa yang mungkin ada bagi dirimu. Yang mungkin ada bagi dirimu
lebih banyak dari yang engkau ketahui. Engkau dikatakan hidup jika mengadakan
yang mungkin ada menjadi ada dengan cara berinteraksi. Pada saat engkau hidup
terjadi pertempuaran yang hebat di dalam tubuh anda. Ada tesis anti tesis dan
sintesis. Contohnya adalah pertemuan antara makanan dan oksigen yang menghasilkan
tenaga.
Hubungan
matematika dengan doa. Yang tidak memiliki spiritualitas tidak mampu menangkap
hubungan matematika dan doa. Hubungan antara pikiran dengan tindakan yaitu yang
dipikirkan dilakukan, yang dipikirkan tidak dilakukan, yang tidak dipikirkan
dilakukan, yang tidak dipikirkan tidak dilakukan. Kalau tidak dipikirkan tetapi
dilakukan namanya ceroboh. Kalau memikirkan saja tidak melakukan akan menjadi
kosong. Itu adalah ancaman berfilsafat. Mengerjakan tanpa dipikirkan akan
menjadi buta. Hidup ini berjuang agar kita tidak kosong dan tidak buta. Tidak
kosong dengan mengerjakan pengalaman dan tidak buta dengan olah pikir yaitu
berfilsafat.
Filsafat
tidak boleh dipisah-pisah antara ontologi dan epistimologi. Jangan sekalipun
mengalami kekacauan dalam hati karena itu sebenar-benarnya godaan setan, tetapi
kalau ingin menuntut ilmu kacaukan pikiran anda. Jika berfilsafat sudah mulai
mengacaukan hati maka stop dan berwudhu.
Hal yang tidak bisa didefinisikan disebut intuisi yang meliputi sayang
cinta benci senang ikhlas jauh dekat besar kecil, dll. Terdapat banyak sekali
(tak terhingga) hal yang aku mengerti tetapi aku tidak dapat mendefinisikannya.
Terdapat hanya sedikit hal yang bisa aku ketahui hanya melalui definisi yang
disebut pengertian formal. Pengertianku itu ada tak berhingga yang aku peroleh
tidak dengan cara mendefinisikan yang disebut intuisi. Untuk anak-anak intuisi
digunakan lebih dari 90%. Sedangkan untuk orang dewasa pengertian formal itu
hanya digunakan sekita 3-5%. Intuisi bisa dibangun bisa dirusak.
Pertanyaan:
1. Bagaimana
caranya agar intuisi tidak rusak saat pembelajaran?
2. Bagaimana
filosofi dari pembelajaran matematika?
3. Apa
saja aliran-aliran filsafat?
4. Sebagai
guru, sebaiknya mengikuti aliran filsafat yang mana?
5. Apakah
boleh membuat filsafat sendiri?