Kamis, 25 September 2014

Refleksi 2 Filsafat



Filsafat mengkaji hubungan apa saja yang ada dan yang mungkin ada. Hubungan antara waktu dan hati yaitu kegembiraan di waktu yang akan datang tidak mampu menghapuskan kesedihanmu sekarang, namun kesedihanmu di waktu yang akan datang akan menghapuskna kegembiraanmu sekarang. Dengan belajar berfilsafat kita akan merangkai pilar-pilar dan menghubungkan komponen-komponen filsafat yaitu dengan cara membaca dengan keihlasan, sabar, tawakal, dan istiqomah sehingga bisa mendapatkan ilmu. Cara belajar filsafat adalah dengan silaturahmi. Silaturahminya filsafat adalah bertanya dan menjawab. Karena filsafat itu muncul dari pertanyaan. Tanpa pertanyaan tidak akan muncul pemikiran.
            Hubungan hati dan pikiran yaitu benar salah, baik benar. Setiap unsur berdimensi. Benar dan salah bagaikan langit dan bumi. Hidup itu adalah menguji benar dan salah, baik dan buruk, dikerjakan dan tidak dikerjakan. Kalau hanya satu sisi akan menjadi perusak. Hidup itu mengisi, antara fatal dan vital. Komponen hidup ada dua yaitu fatal dan vital. Fatal itu nasib, vital itu ikhtiar. Tetapi fatal itu jatuhnya setelah vital, yaitu nasib itu terjadi setelah berikhtiar. Manusia ditakdirkan untuk berikhtiar itu disebut meta.
Pada elegi digunakan simbolisasi dewa dan daksa bukan Tuhan karena dewa toleran terhadap pemikiran dan tindakan manusia serta untuk mengurangi resiko melakukan yang fatal. Senjata yang paling tinggi adalah ilmu. Akan jadi masalah jika sifat-sifat manusia digunakan untuk menerjemahkan sifat-sifat para dewa. Konotasi dewa merupakan bahasa analog, yaitu sebagai subjek terhadap subjeknya. Dirimu adalah subjek dari semua milikmu. Semua sifat jatuh pada suatu objek atau objek. Sifat tersebut berimplikasi terhadap dua hal yaitu subjek sama dengan predikatnya atau predikat termasuk di dalam subjeknya. Kalau itu urusan dunia, tidak ada subjek sama dengan predikat. Tidak ada aku sama dengan aku. Aku sama dengan aku hanya terjadi di urusan langit. Di dunia aku adalah pikiranku, kegiatanku, yang tidak akan pernah sama dengan aku. Maka ketika kau berada di dunia ini, kamu memiliki sifat kontradiksi. Semua anggota tubuh itu kontradiksi. Maka engkau konsisten dengan hati dan pikiranmu tindakan itu tidak akan terjadi di dunia ini, bagi orang yang mengetahuinya. Sifat identitas hanya terjadi di langit, pikiranmu, atau pengandaian. Tidak ada orang yang persis sama dengan namanya. Aku yang sekarang tidak sama dengan aku yang tadi. Maka bahasa matematika adalah bahasa identitas yang dimulai dari pengandaian. Tetapi matematika anak kecil tidak konkret bersifat kontradiksi. Kontradiksi filsafat berbeda dengan kontadiksi matematika. Kontradiksi pada matematika, kontradiksi dari hukum identitas. Hukumnya ialah seberapa jauh ia konsisten.
Dalam filsafat hubungan antara takdir dan pikiran antara lain takdir yang dipikirkan dan takdir yang tidak boleh dipikirkan. Jika kau percaya pada takdir maka yang terjadi itulah yang terbaik bagimu. Hubungan antara motif dengan pikiran yaitu berani benar, berani salah, tak berani benar, tak berani salah. Hubungan pikiran dengan hati yaitu benar tidak sombong, benar sombonng, salah tidak sombong, salah sombong. Hati itu berdimensi. Senang dan tidak senang itu jauhnya tak terhingga. Komponen hati meliputi senang, tidak senang, khusyuk, sayang, cinta, dsb. Struktur bangunan keilmuan itu berdimensi 3, bahkan kalau sudah sampai pada tataran meta maka berdimensi empat. Dimensi keempatnya adalah spiritualitas.
Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Hubungan yang ada dan yang mungkin ada adalah yang mungkin ada masih mungkin untuk diadakan. Yang nanti engkau ketahui itu merupakan yang mungkin ada. Yang aku pikirkan dan akan kukatakan adalah apa yang mungkin ada bagi dirimu. Yang mungkin ada bagi dirimu lebih banyak dari yang engkau ketahui. Engkau dikatakan hidup jika mengadakan yang mungkin ada menjadi ada dengan cara berinteraksi. Pada saat engkau hidup terjadi pertempuaran yang hebat di dalam tubuh anda. Ada tesis anti tesis dan sintesis. Contohnya adalah pertemuan antara makanan dan oksigen yang menghasilkan tenaga.
Hubungan matematika dengan doa. Yang tidak memiliki spiritualitas tidak mampu menangkap hubungan matematika dan doa. Hubungan antara pikiran dengan tindakan yaitu yang dipikirkan dilakukan, yang dipikirkan tidak dilakukan, yang tidak dipikirkan dilakukan, yang tidak dipikirkan tidak dilakukan. Kalau tidak dipikirkan tetapi dilakukan namanya ceroboh. Kalau memikirkan saja tidak melakukan akan menjadi kosong. Itu adalah ancaman berfilsafat. Mengerjakan tanpa dipikirkan akan menjadi buta. Hidup ini berjuang agar kita tidak kosong dan tidak buta. Tidak kosong dengan mengerjakan pengalaman dan tidak buta dengan olah pikir yaitu berfilsafat.
Filsafat tidak boleh dipisah-pisah antara ontologi dan epistimologi. Jangan sekalipun mengalami kekacauan dalam hati karena itu sebenar-benarnya godaan setan, tetapi kalau ingin menuntut ilmu kacaukan pikiran anda. Jika berfilsafat sudah mulai mengacaukan hati maka stop dan berwudhu.  Hal yang tidak bisa didefinisikan disebut intuisi yang meliputi sayang cinta benci senang ikhlas jauh dekat besar kecil, dll. Terdapat banyak sekali (tak terhingga) hal yang aku mengerti tetapi aku tidak dapat mendefinisikannya. Terdapat hanya sedikit hal yang bisa aku ketahui hanya melalui definisi yang disebut pengertian formal. Pengertianku itu ada tak berhingga yang aku peroleh tidak dengan cara mendefinisikan yang disebut intuisi. Untuk anak-anak intuisi digunakan lebih dari 90%. Sedangkan untuk orang dewasa pengertian formal itu hanya digunakan sekita 3-5%. Intuisi bisa dibangun bisa dirusak.
Pertanyaan:
1.      Bagaimana caranya agar intuisi tidak rusak saat pembelajaran?
2.      Bagaimana filosofi dari pembelajaran matematika?
3.      Apa saja aliran-aliran filsafat?
4.      Sebagai guru, sebaiknya mengikuti aliran filsafat yang mana?

5.      Apakah boleh membuat filsafat sendiri?