Rabu, 30 November 2011

The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Simulations of Prior to Lesson Study Activities By Marsigit


Reviewed by Nurul Husnah Mustika Sari (http://nurul-husnah.blogspot.com/)
Nim: 09301241027

Standar nasional pendidikan matematika di indonesia merupakan kompetensi minimum yang harus dikuasai oleh siswa, yang meliputi kompetensi afektif, kognitif, dan psikomotor. Untuk itu, pendekatan kontekstual dan realistik direkomendasikan untuk dikembangkan oleh guru untuk mengembangkan pemikiran matematika pada siswa SMP. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa setahap demi setahap belajar dan menguasai matematika dengan antusias.
Pendekatan iceberg merupakan langkah awal untuk memberikan pengalaman nyata bagi siswa sehingga mereka segera terlibat dalam aktivitas matematika. Pada penelitian ini, terdapat enam kelompok guru yang mengembangkan model iceberg dalam pembelajaran matematika di SMP. Setiap grup terdiri dari lima orang guru. Berikut ini adalah kerja mereka:
Kelompok 1: pengurangan bilangan pecahan
soal: agus membeli kue tart. Dia memotong kue tersebut menjadi delapan bagian yang sama. Dia dan ketiga adik laki-lakinya masing-masing akan mengambil satu potong dan dia akan menyimpan sisanya. Berapa bagian yang akan agus simpan?
Kelompok 2: persen dan permil
Soal: dua pertiga bagian bumi terdiri dari air. Tentukan persentase banyaknya air.
Kelompok 3: membadingkan pecahan
Soal: bandingkan pecahan berikut ini: 2/3 dan 1/2. Manakah yang lebih besar?
Kelompok 4: pecahan desimal
Soal: tuliskan 0.35 menjadi bentuk pecahan sederhana
Kelompok 5: pecahan campuran
Soal: ubahlah pecahan campuran 1 ¾ menjadi pecahan sederhana
Kelompok 6: pembagian pecahan
Soal: 50 kg beras akan diletakkan pada beberapa kontainer berukuran ¾ kg. Berapa banyak kontainer yang dibutuhkan?

Dalam mengembangkan mode iceberg pada pembelajaran matematika, guru mengharapkan bahwa ada kecenderungan bahwa siswa akan memperhatikan pembagian tidak hanya sebagai bilangan bulat namun juga pada perbandingan atau bilangan rasional. Meskipun model iceberg mengembangkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka pada konsep pecahan, tetapi masih terdapat kesulitan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan simbol. Namun mereka dapat menyelesaikan masalah serupa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak guru yang mengaku bahwa representasi pecahan merupakan hal yang abstrak dan tugas yang susah untuk siswa. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa model iceberg sangat penting dan berguna untuk mengajarkan pecahan di SMP.

Sabtu, 26 November 2011

REVITALISASI PENDIDIKAN MATEMATIKA Oleh Marsigit



Reviewed by Nurul Husnah Mustika Sari

Jaworski (1994: 40) state that there is no best way to teach mathematics. Revitalization means the needs of effort to formulate mathematics teaching model that aappropriate with condition and global development.
Ebutt and Straker (1995: 60-75) state that to develop optimal student’s potention, we must consider this assumption:
1.       Students will study if they get motivation
2.       Students study with their own way
3.       Students study autonomuosly and cooperationly
4.       Students need different situation and context on their learning
Revitalization on education is effort for an expert of mathematics education to do self reflection then faced in multilema decision maker based on deepthly study on new paradigm. It is not easy to do revitalization on education without awareness and great spirit at macro and micro in education world. This is suggestion may be useful for teacher in conducting teaching learning process:
1.       Teaching preparation stage:
a.       Planning environtment for mathematics learning : determine references, make lesson plan, plan the physical environment of learning mathematics, develop student’s social environtment, etc.
b.      Planning for Mathematics activity : plan activites according to student ability, develop mathematical topics, plan balanced mathematics activities in term material, time, and activities, etc.
2.       Teaching stage :
a.       Develop teacher role: encourage and develop students understanding, give chance to the students to demonstrate their ability, let the students make mistake, encourage students to responsible their learning, etc.
b.      Set the time to whom and when do mathematics activity with or not with students : develop students experiences, set time allocation, set up feedback, etc.
3.       Evaluation stage :
a.       Observing student’s activities : what students mastered and not mastered,
b.      Teacher evaluate their own: what have teacher do and reach, what will teacher do, from where and what help do teacher need, etc
c.       Assess understand, process, skill, facts, and result
d.      Assess result and monitoring students achievement

Pembudayaan Matematika di Sekolah Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa Oleh Marsigit


Reviewed by Nurul Husnah Mustika Sari
Make mathematics as a culture in school have some understanding aspects about the nature of mathematics, nature of school mathematics, nature of mathematics education, nature of mathematics value, etc. Generally, whatever we discuss, it is always related with object and method. Based on the material, mathematic’s object can be a concrete thing likes sketch or cube model, square pool, roof that has form pyramid, pyramid in Egypt, wheel that have form circle, etc. So, in material, mathematics can be pure mathematics, acsiomatis mathematics, formal mathematics. Katagiri state that mathematical thinking consist of 3 aspects, they are mathematic’s attitude, mathematical thinking method,  and mathematics contents. Mathematic’s attitude can be shown by indicator interest to study mathematics, attitude that support to study mathematics, knowledge that sufficient to study mathematics, curiosity, willingness to ask, willingness to get mathematical skill, and mathematics experiences.

1.      Nature of school mathematics and its learning
To make mathematics as a culture in school can be focused in human relationship and appreciation on individual differences. Civilize mathematics learning implicated to teacher function as good facilitator so that students could optimal in learning mathematics. Teacher have 3 main function: as a facilitator, as reference, and monitoring students activity.
2.      Hermeneutics civilizing mathematics
Basic elements of civilizing mathematics is activity to communicate mathematics in some dimention. Dimentions of communication determine by characteristic of subject or object.

Based on activity that have been done in mathematics PLPG, workshop, seminar, we got that inovation in teaching mathematics must answer the following challenge:
a.       How to promote teaching learning mathematics that oriented to process
b.      How to develop cooperative learning in teaching learning mathematics
c.       How to form group discussion in teaching learning mathematics
d.      How to develop learning mathemtaics through gamez
e.      Develop variation of mathematics learning method
f.        Use concrete thing in teaching learning mathematics
g.       Contextual learning
h.      Encourage students initiative and student’s role
i.         Develop variation of references
j.        Develop ralistic mathematics education
k.       Variation of interaction and communication in teaching learning mathematics
l.         Concepts of education si for all
m.    Encourage student’s creativity
n.      Revitalize  nature of school mathematics
o.      Nature of students learn mathematics
p.      Promote student center learning
q.      Develop student worksheet

Rabu, 23 November 2011

Developing Teacher Training Textbooks for Lesson Study in Indonesia


By Marsigit
Reviewed by Nurul Husnah Mustika Sari (http://nurul-husnah.blogspot.com/)
Nim: 09301241027

Ketersediaan buku teks merupakan salah satu hal penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Program ideal untuk penyediaan buku tidak seharusnya dimonopoli oleh sebuah institusi melainkan memberikan kewenangan kepada sekolah untuk memilih buku teks yang mereka butuhkan.
50 orang guru yang belum mempunyai pengalaman dalam lesson study memberikan persepsi yang tidak terstruktur mengenai buku teks yang bagus, yaitu: mudah dipahami, bermakna, dan memuat contoh-contoh yang bagus. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa buku yang bagus sebaiknya menggunakan bahasa yang standar, sederhana, dan komunikatif. Lebih dari setengah guru-guru tersebut mengindikasikan bahwa buku yang baik untuk siswa SMP harus komprehensif dalam hal isi dan kompetensi (afektif, psikomotor, dan kognitif). Sebagian kecil dari meeka berpendapat bahwa buku teks yang baik untuk siswa SMP adalah buku yang sistematis, berisi latihan yang baik, sistem penilaian yang baik, mempunyai penampilan yang bagus, lay out serta ilustrasi yang bagus, relevan dengan kehidupan sehari-hari, kontekstual, serta sesuai dengan kurikulum.
50 orang guru yang mempunyai pengalaman dalam lesson study memberikan persepsi yang tidak terstruktur mengenai buku teks yang bagus, yaitu: mudah dipahami, bermakna, dan memuat contoh-contoh yang bagus. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa buku yang bagus untuk siswa SMP haruslah relevan dan dapat dipakai pada kehidupan sehari-hari. Lebih dari setengah mengindikasikan bahwa buku teks harus dapat memfasilitasi kebutuhan siswa dan meningkatkan pembelajaran individual. Sebagian kecil berpendapat bahwa buku teks harus kontekstual, mempunyai penampilan yang bagus, ilustrasi dan lay out yang bagus, murah, serta dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis dan kreativitas. Untuk waktu dan konsep tertentu, tidak ada kriteria yang tepat mengenai buku teks yang baik. Akan tetapi, kita dapat mengikuti teori umum dan asumsi, mengubahnya agar memperoleh buku teks yang lebih baik.
Hambatan hambatan dalam pengembangan buku teks yang baik antara lain:
1.      Kurangnya keahlian dan pengetahuan dalam menulis buku teks matematika yang baik
2.      Sulit untuk membagi waktu
3.      Membutuhkan dana
4.      Susah menentukan tema buku, megumpulkan data
5.      Susah untuk menggali ide atau konsep buku dan modelnya, dsb.