Selasa, 04 Desember 2012

Refleksi 5 Kuliah Filsafat (28 November): Melihat Filsafat dari Sisi Persoalannya Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (09301241027)




Pada perkuliahan filsafat 28 November 2012 ini, Prof Marsigit menjelaskan mengenai persoalan-persoalan yang ada pada filsafat. Persoalan-persoalan filsafat ini disampaikan oleh Prof Marsigit dengan pendekatan kehidupan sehari-hari kami semua serta diselingi dengan cerita-cerita spiritual.
Persoalan filsafat dialami orang sejak dahulu hingga sekarang yaitu apa yang pantas dipikrkan, tidak pantas dipikirkan itu apa, kalu kita bisa berpikir sejauh mana kita dapat memikirkannya, selanjutnya bagaimana cara berpikir, metode-metodenya. Hal itu merupakan persoalan sejak awal adanya manusia karena setiap manusia mempunyai pikiran. Yang berbeda hanyalah tingkatannya. Atau dimensi kualitas dan ektensivitasnya. Pada saat jaman Yunani orang mempunyai mitos, sekarang pun kita punya. Mitos tidak selamanya negatif karena anak kecil tidak belajar melalui pemahaman terlebih dahulu namun melakukan apa-apa yang tidak dimengertinya, itu disebut sebagai mitos. Mitos adalah melakukan pekerjaan di mana kita tidak mengerti maknanya. Kita pun kadang seperti itu. Mitos sejalan dengan intuisi.
Seperti yang telah dijelaskan oleh Prof  Parsigit pada pertemuan sebelumnya mengenai intuisi, anak kecil sejatinya belajar melalui intuisi seperti paanjang pendek, lama sebentar. Anak kecil 90% belajarnya melalui intuisi. Pada anak kecil, hampir semua aspeknya adalah mitos. Kalau dilihat dari produknya itu mitos tapi kalau dilihat dari prosesnya itu intuisi. Intuisi diperoleh dari interaksi dengan lingkungan, komunikasi, dsb. sebagai contoh seseorang mengetahui konsep cantik pada usia yang berbeda-beda, salah satu yang memengaruhinya adalah pengaruh keluarga seperti keterbukaan keluarga, komunikasi keluarga, dsb.
Salah satu contoh mitos Yunani adalah pelangi sebagai jembatan para dewa. Sedangkan contoh mitos jaman sekaran adalah adanya Nyai Roro Kidul. Karena merupakan mitos maka orang-orang tidak berani untuk memikirkannya, berat bagi orang-orang untuk memikirkannya. Mitos memiliki kelebihan dan kekurangan. Segala yang ada dan yang mungkin ada memang memiliki dua sisi, kelebihan dan kekurangan. Contoh kelebihannya adalah orang menjadi lebih santun, segan, menjaga dan melestarikan Laut selatan. Mitos bagi seseorang belum tentu mitos bagi orang yang lain. Kita pun bisa membuat mitos untuk orang lain. Kalau kita melaksanakannya tanpa tahu maksudnya maka itu merupakan mitos. Filsafat makro seperti filsafat Yunani dan Eropa direfleksikan kepada filsafat mikro pada diri kita.
Dahulu seorang pejabat pernah berkata untuk menyamakan hati, pikiran, dan tindakan. Dari segi filsafat hal itu sangat sulit untuk diwujudkan karena domain pikiran itu serempak atau parallel sedangkan domain perkataan dan tindakan itu satu persatu atau seri. Namun sejatinya maksud dari perkataan tersebut adalah secara pragmatis yaitu marilah kita berbuat bijaksana.
Bagaimana kita bisa mengintensif dan mengekstensifkan pikiran dan hati kita. Kita bisa mempercayai adanya Nabi dari kitab suci Al-Qur’an, sunah Rasul, buku agama, guru, serta para pemuka agama. Suatu ketika, para sahabat bertanya mengenai wajah rasulullah yang kemudian dijawab oleh beliau dengan mempersilahkan para sahabat melihat telinga putra rasrulullah. Pada saat itu hanya Abu Bakar RA yang menolak. Wajah rasulullah dipandang dan dipikirkan melalui hati yaitu Nurmuhammad. Abu bakar asshidiq merupakan orang yang mampu melihat nurmuhammad itu. Pada setiap jamannya terdapat guru-guru spiritual seperti Abu Bakar As shidiq. Salah satu guru spiritual yang terkenal pada jamannya adalah Syeikh Abdul Qadir Jaelani yang menjalani setiap kegiatannya dengan ikhlas. Ikhlas bukan merupakan hal yang mudah. Untuk menjadi orang yang ikhlas dibutuhkan usaha-usaha. Sejatinya, saya sendiri pun masih belum memahami bagaimana cara agar bisa menjadi manusia yang selalu ikhlas.
Di dunia ini, terdapat hal-hal yang tidak dapat kita pikirkan secara rasional namun ada seperti adanya benda-benda ghaib seperti adanya hantu. Contoh lainnya adalah antara takdir dan nasib. Takdir dan nasib tidak dapat kita perkirakan. Namun ada orang-orang tertentu yang mungkin dapat memperkirakannya, orang-orang yang menguasai ilmu titen. Dalam filsafat, hal yang tidak dapat kita pikirkan disebut sebagai noumena.
Dalam budaya jawa, terdapat beberapa orang yang perlu diruwat supaya sadar terhadap dirinya sendiri. Orang-orang yang perlu diruwat itu misalnya adalah orang yang sering mengalami kecelakaan, orang yang sering sakit, anak semawat wayang, dsb. Ruwatan jaman sekarang adalah dengan mempelajari filsafat supaya dapat mengetahui diri kita sendiri. Dengan belajar filsafat kita akan memikirkan apa yang kita pikirkan. Memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada sehingga kita akan sadar terhadap diri kita sendiri.


Refleksi kuliah filsafat 4 (7 November 2012): Menembus Ruang dan Waktu Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (09301241027)





Pada pertemuan kali ini bapak Marsigit mengungkapkan berbagai hal mengenai menembus ruang dan waktu yang meliputi bekal apa sajaserta bagaimana caranya. Segala yang ada dan yang mungkin ada sebenar-benarnya sedang menembus ruang dan waktu. Mengalami masa lampau, sekarang , dan yang akan datang. Menembus ruang dan waktu bisa sangat sulit bisa sangat mudah, misalnya tidur. Menembus ruang dan waktu itu berdimensi meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang tidak kita ketahui juga menembus ruang dan waktu misalnya kesempatan.
Terdapat tiga hal pokok yang ,menjadi bekal supaya orang dapat menembus ruang dan waktu.:
1.      Paham ruang dan waktu
2.      Memahami tentang adanya filsafat fenomenologis
3.      Memahami filsafat foundasionalisme dan antifoundasionalisme
Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga hal pokok tersebut:
1.      Ruang berdimensi, secara umum ada ruang berdimensi 1,2,3,4, dst. Namun terdapat ruang-ruang yang lain baik secara vertikal maupun horisontal.  Salah satu ruang  adalah ruangnya berfilsafatnya versi kaum spiritualis, mulai dari materialisme, formalisme, formatif, dan spiritual. Setiap saat tiadalah orang yang menembus ruang. Sekaligus kita adalah material, formal, normatif, dan spiritual, sekaligus kita adalah ruang berdimensi tak berhingga. Spiritual ada yang tingkat nol sampai yang tingkat teritinggi. Serendah-rendahnya spiritual manusia adalah kalau dia tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Normatif itu ilmu. Orang yang tidak berilmu seperti orang gila juga  mempunyai pengetahuan, walaupun tidak memiliki kategoti, secara psikologis disebut disoerientasi, secara filsafat kategorinya kacau. Tidak bisa membedakan lelaki dan perempuan, jarak, dsb. Tidak bisa mengkategorikan yang efisien dan tidak efisien, itu disebiut dimensi ruang.
Untuk Menembus ruang dan waktu. Materialnya orang sholat itu sujud, normatifnya berdoa, namun sujud itu juga normatif dan spiritual. Terdapat tiga macam waktu, Waktu itu berurutan, berkelanjutan dan berkesatuan.
2.      Kita bisa menyebut berapa waktu itu menggunakan fenomenologis, tokohnya adalah husserr. Isi pokok dari fenomenologi adalah abstraksi dan idealism. Sebenar-benar manusia itu abstraksi karena kita hanya bisa melihat satu titik tidak bisa melihat semua titik, banyak titik tapi tidak bisa semua titik, maka kita harus memilih mana obyek yang akan dilihat. Manusia mempunyai kelebihan melihat objek yang di depan dan kelemahan melihat objek yang berada di belakang dirinya, berlawanan dengan kondisi mata anda. Abstraksi, memilih, memilih mana yang dilihat, memilih apa yang dipikirkan, memilih apa yang dibicarakan. Abstraksi atau bisa disebut juga dengan reduksi. Hakikat manusia adalah abstraksi. Misalnya kita tidak bisa dilahirkan di mana-mana. Dari bermilyar-milyar ibu, memilih satu itu merupakan reduksi yang  hebat. Sehinga Husser harus membuat rumah besar yang dipakai untuk menampung yang tidak kita pikirkan yang disebut sebagai rumah epoke, bahasa awamnya lupakanlah, bahasa filsafatnya dimasukkan ke dalam rumah epokke. Rumah epoke selalu kita gunakan, baik dalam spiritual maupun dalam matematika, sebagai contoh saat belajar segitiga, kita tidak memikirkan warna, bahan, harga, dan aromanya. Yang dipikirkan hanyalah bentuk dan ukurannya. Ilmu, materialnya adalah ilmu, formalnya adalah ilmu pengetahuan, normatifnya adalah logos atau fisafat spiritualnya adalah ciptaan-ciptaan tuhan.
3.      The foundation dan antifoundation. Sebenar benar anti foundation adalah intuisi. Setiap orang beragama pasti adalah kaum foundasionalisme karena menetapkan Tuhan adalah causa prima sebab dari segala sebab. Semua orang yang menikah adalahkaum foundasoinalisme yang foundamennya adalah ijab kobul. Semua kaum pure mathematisian adalah kaum found karena dia berangkat dari definisi-definisi. Foundalism itu harus dipotong, memotong artinya memulai. Jika engkau tahu kapan engkau memulai maka engkau termasuk kaum foundasionalism. Tapi lebih banyak lagi dunia ini separuhnya tidak tahu kapan dimulainya itu lah yang disebut antifoundasionalism. Maka hakekat manusia adalah foundasionalism dan antifoundasionalism, intuisi. Manusia bahkan tidak tahu sejak kapan ia dapat membedakan besar dan kecil. Itulah yang disebut dengan intuisi. Mengerti besar dan kecil itu tidak perlu definisi, jadi intuisi tidak memerlukan definisi,
Matematika di sekolah gagal karena siswa telah terampas intuisinya. Contoh ketika ditanya apakah itu dua jawabannnya adalah 1+1, 2x1, 3-1, dsb. Padahal secara intusi manusia punya dua telinga dua tangan. Karena definisi kita kehilangan intuisi. Bahkan kasih sayang dan doa butuh intuisi. Besar, kecil, panjang, pendek, lebar, sempit, merupakan intuisi ruang. Lama dan sebentar merupakan intuisi waktu.

Refleksi 3 Perkuliahan Filsafat(31 oktober 2012): Tesis, antitesis, dan Sintesis Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (09301241027)



Pada perkuliahan ini, Bapak Marsigit membahas pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang menarik bagi saya adalah pertanyaan yang diajukan oleh Maria Rosari Anggun Mursitorini yaitu “Bagaimana cara merasionalkan pikiran jika pikiran kita berbeda dengan orang lain?”
Jawaban yang diberikan oleh bapak marsigit adalah:
Itu namanya sintesis. Tesis adalah yang ada dan yang mungkin ada. Ambil satu tesis, misal A, maka antitesisnya adalah selain A. Maka kita bisa mendefinisikan segalanya menggunakan tesis dan antitesis. Jadi sangat enteng dalam filsafat jika ada perbedaan pikiran. Jikalau memang terjadi demikian, perbedaan tersebut dapat didialogkan.

Sejenak, saya tidak mengetahui maksud dari pertanyaan itu, namun setelah Dr. Marsigit menjawab pertanyaan tersebut, terlihat pemahaman dari diri saya walaupun masih cukup remang-remang. Yang dapat saya pahami adalah bahwa tesis dan antitesis merupakan sesuatu yang saling berkebalikan. Ketika tesis dan antitesis bertemu di dunia nyata maka akan muncul sintesis.  Sintesis merupakan  suatu integrasi dari dua atau lebih elemen yang ada yang menghasilkan suatu hasil baru. Sintesis adalah hasil akhir dari percobaan untuk menggabungkan antara thesis dan antithesis. Sintesis kemudian bisa menjadi Thesis dan kemudian menemukan Antithesisnya dan melahirkan Sintesis baru. Demikian seterusnya. Jadi, ketika terjadi perbedaan pendapat mengeani sesuatu, langkah yang harus dilaksanakan adalah dengan berdialog yang dalam istilah filsafat disebut sebagai dialektika.  Menurut saya, dialektika yang dimaksud tidak hanya dapat terjadi antara satu orang dengan orang yang lain, namun juga dapat terjadi dalam pikiran kita sendiri. Dalam pikiran seorang manusia kadang atau malah sering terdapat pendapat yang saling berkontradiksi, untuk mengatasi hal tersebut, kita pikiran kita harus berdialog, memerinci pendapat-pendapat yang terdapat dalam pikiran kita, yang kemudian mengambil keputusan mengenai mana pemikiran yang lebih baik. Dalam mengambil keputusan tersebut, kita harus memperhatikan fakta-fakta yang ada serta memperhatikan akibat dari pemikira kita tersebut.
Pertanyaan:
1.      Apakah sadar itu? Dan bagaimana kita tahu bahwa kita berada dalam keadaan sadar?