Rabu, 23 November 2011

MATHEMATICAL THINKING ACROSS MULTILATERAL CULTURE By Marsigit Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science, Yogyakarta State University



Reviewed by Nurul Husnah Mustika Sari (http://nurul-husnah.blogspot.com/)
Nim: 09301241027
Terdapat bermacam-macam pemikiran mengenai matematika yang berbeda dari negara-negara yang berbeda. Berikut ini adalah pemikiran mengenai matematika dari beberapa negara APEC:
1.       Konsep Australia : berdasarkan Staecy Kaye
Stacey berpendapat bahwa tujuan utama pembelajaran matematika adalah dapat menggunakan pola pikir yang matematis untuk memcahkan masalah. Tujuan akhirnya adalah agar siswa mampu melakukan investigasi matematika secara mandiri serta penerapan matemtika dalam kehidupan sehari-hari.
2.       Konsep Inggris : berdasarkan David Tall
Terdapat dua hal penting dalam ide David Tall yaitu perhatian terhadap pengetahuan yang telah diterima siswa yang berpengaruh terhadap materi pembelajaran saat ini serta membantu siswa untuk fokus terhadap ide pokok sehingga menjadi dasar pemikiran yang lebih sesuai.
3.       Konteks Taiwan : berdasarkan Fou Lai Lin
Fou Lai Lin memerincikan pemasukan perkiraan dan membuktikan bahwa perkiraan dalam berpikir matematis merupakan proses yang dibutuhkan dalam pemecahan masalah.
4.       Konteks Jepang : berdasarkan Katagiri
Katagiri berpendapat bahwa kemampuan terpenting yang harus dimiliki oleh anak sebagai masyarakat, orang yang berpengetahuan, serta pengembang teknologi, baik saat ini maupun yang akan datang, bukanlah kemampuan menyelesaikan tugas dan perintah dengan benar dan cepat melainkan kemampuan yang mereka miliki untuk mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan atau kuasai. Aktivitas matematika harus dipilih secara seksama sedemikian hingga anak-anak membentuk konsep, mengembangkan keterampilan, belajar fakta dan memperoleh strategi untuk mengivestigasi dan menyelesaikan masalah.
5.       Konteks Singapura : berdasarkan Yeap Ban Har
Yeap Ban Har berpendapat bahwa berpikir matematis sejajar dengan kompetensi matematika dan kompetensi umum ketika siswa menangani situasi matematika sebagai pemecahan masalah matematika.
6.       Konteks Malaysia : berdasarkan Lim Chap Sam
Lim Chap Sam berpendapat bahwa untuk mengembangkan berpikir matematis membutuhkan kelengkapan dan peningkatan pemahaman guru mengenai berpikir matematis.
7.       Konteks Indonesia : berdasarkan Marsigit, dkk
Menurut Marsigit, dkk, tujuan pembelajaran matematika di Indonesia pada saat ini masih sangat dibutuhkan untuk meningkatkan berpikir matematis dan melaksanakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar