Oleh
Nurul Husnah Mustika Sari
(14709251013), S2 Pendidikan Matematika Kelas D
Artikel ini merupakan
refleksi kuliah filsafat oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat tanggal 17
Oktober 2014 pukul 10.00-11.40 WIB. Pada perkuliahan
ini, Prof Marsigit membahas pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Salah satu
pertanyaan yang menarik bagi saya adalah pertanyaan yang diajukan oleh
Lidrawati yaitu “Mengapa pendekatan saintifik dapat mereduksi nilai-nilai
spiritual kita?” Jawaban yang diberikan oleh bapak
marsigit adalah:
Ditinjau dari kerangka
umum, segala metode saintifik itu memang
paradigmanya positiv yang meletakkan spiritualitas di bawah. Menurut kamu
positiv, untuk membangun masyarakat harus mempunyi jiwa positif yaitu saintifik
yang berguna untuk mengeksplor dunia. Kalau pendekatan saintifik memang berasal
dari positivsime maka spiritualitas kita bukan hanya akan tereduksi namun lebih
dari itu, spiritualitas kita akan terpinggirkan dan bermasalah spiritualismenya.
Tujuan
berfilsafat berbeda-beda. Bagi bangsa Barat, bijak berarti memperoleh ilmu,
metode saintifik, menemukan sesutau yang baru.
Sementara orang timur, khususnya Indonesia,
berusaha mendapatkan ridho dari allah. Namun
saat ini kita hidup di dunia kontemporer yang strukturnya telah berubah dari
positiv menjadi Powernow. Powernow memiliki struktur archaic, tribal, tradisional,
feodal, modern, post modern, kemudian
power now. Spiritual berada di tengah yaitu di daerah tradisional yang
berarti bahwa chemistri kehidupan saat ini, puncak kehidupan saat ini bukanlah
spiritualitas namun ekploitasi, eksplorasi, seperti yang ada pada metode
saintifik. Kita tidak dapat berbuat banyak. Mau tidak mau kita terpengaruh,
agar tidak tertinggal dari bangsa lain dan dapat bertahan. Mau tidak mau kita
mengikuti power now walaupun itu berbenturan dengan etik dan estetika kita.
Oleh karena itu dalam mengembangkan metode saintifik harus dibatasi dengan
moralitas dan spiritual.
Menurut Immanuel kant,
jika ingin melihat dunia silahkan tengok pikiranmu. Dunia persis seperti yang
kamu inginkan. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempur di dalam ketidaksempurnaannya
sehingga manusia bisa menghayati hidup. Filsafat menjelaskan yang tetap dengan
yang berubah. Sifat bersifat. Ketidakmampuan menyebutkan sifat kita disebut
sebagai reduksi. Sebagai contoh, kita hanya bisa melihat ke depan, namun kita
bisa mengenok ke belakang. Depanmu terkandung belakang.
Pertanyaan lain yang
menarik perhatian saya adalah pertanyaan “untuk setiap orang yang berbeda-beda
menjembatani perbedaan itu?” Dari sisi filsafat, jangankna orang satu dengan
yang lain, bahkan akupun selalu berbeda-beda dari satu waktu ke waktu yang lain
karena aku sensitif terhadap ruang dan waktu. Maka ketika kita di dunia tidak
berlaku aku sama dengan aku. Aku sama dengan aku hanya berlaku di pengandaian,
di dalam pikiran atau di akhirat. Ketika di dunia tidak bisa. Oleh karena itu
dunia selalu bersifat kontradiksi. Untuk urusan dunia digunakan metode sintetik
aposteriori sedangkan untuk urusan logika dan pemikiran digunakan metode analitik
apriori. Jembatannya adalah ilmu yaitu sintetik apriori, yang berarti dialami
kemudian dipikirkan. Setelah memikirkannya, gunakan pengetahuan itu untuk
mencari pengalaman, itulah putaran hermeneutika, terjemah menterjemahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar