Kamis, 30 Oktober 2014

Refleksi 6: Mengembangkan Intuisi pada Pembelajaran



Artikel ini merupakan refleksi kuliah filsafat oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat tanggal 24 Oktober 2014 pukul 10.00-11.40 WIB. Pada perkuliahan ini, Prof Marsigit membahas pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang mendapat kesempatan untuk dijawab adalah pertanyaan saya yaitu “bagaimana cara mengembangkan intuisi dalam pembelajaran matematika?” Jawaban yang diberikan oleh bapak marsigit adalah:
Intuisi adalah hasil dari interaksi. Seperti interaksi seorang anak dengan ibu, bapak, dan adiknya. Yang lebih rendah daripada intuisi adalah naluri atau  insting. Intuisi hadir melalui pergaulan seperti konteks mengenai indah, kecil, panjang, lebar, banyak, dan sebagainya. Konteks tersebut terbentuk memalui interaksi seperti mengucapkan bahwa si anak cantik, mengucapkan terima kasih, membaca doa, dan sebagaiaya. Intuisi itu tidak ingat kapan dan dimana dia mengerti dimana itu menjadi bekal spontan untuk berpikir karena interaksi tadi diam-diam telah meletakkan dasar-dasar kategori dalam pikiran kita seperti yang ditemukan oleh Aristoteles sebanyak 12 kategori sedangkan Immanuel Kant sebanyak 4 kategori yaitu kuantitatif, kualitatif, hubungan, dan modalitas. Setiap kategori  dibagi menjadi 3 aspek. Kategori kuantitatif terdiri dari universal, particular, dan singular. Kategori kualitatif terdiri dari afirmatif, negatif, dan infinit. Kategori hubungan terdiri dari kategori, hipotetik, dan komunitas. Sedangkan kateori modalitas terdiri dari probabilitas, asetorik, dan apodiktik. Jadi ketika mengatakan “banyak” itu spontan karena telah menjadi intuisi, sudah meletakkan dasar-dasarnya. Apa yang kita pikirkan memperkokoh kategori-kategori dan kategori-kategori itu berkembang sehingga kalau belajar kategori vertikal, horizontal, ekstensif, dan intensif, anda menguasai statistika, ketika orang mengatakan random maka anda mengetahuinya karena di dalam pikiran sudah terbentuk kategori random. Pengetahuan tidak lain tidak bukan adalah kateori. Maka keterukuran ilmu adalah kategori yang jika diekstensikan menjadi indikator atau kriteria, maka untuk menyusun suatu instrumen dibutuhkan referensi unutk menyusun indikator, kriteria, atau kategori. Referensi tersebut bisa berbentuk normatif yaitu dari hasil penelitian atau jurnal, maupun refersnsi formal yaitu peraturan perundang-undangan. Maka suatu instrumen agar valid harus dihasilkan melalui proses bagaimana menjabarkan referensi berdasarkan kategori, indikatori, dan kisi-kisi. Ilmu esensinya adalah ketegori yaitu alat untuk membedakan. Orang yang berilmu bisa membedakan. Sebenar-benar ilmu adalah kalau dia mampu membedakan. Sampai kita tua kita selalu menggunakan intuisi kita walaupun dalam kasus tertentu kemenonjolannya tergantung pada mana yang sedang kita lihat. Contohnya saat mengerjakan matematika bukannya tidak menggunakan intusisi tapi sedang melihat proses pembuktiannya atau logika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar