Artikel ini merupakan
refleksi kuliah filsafat oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat tanggal 24
Oktober 2014 pukul 10.00-11.40 WIB. Pada perkuliahan ini, Prof Marsigit
membahas pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang mendapat
kesempatan untuk dijawab adalah pertanyaan saya yaitu “bagaimana cara
mengembangkan intuisi dalam pembelajaran matematika?” Jawaban yang diberikan
oleh bapak marsigit adalah:
Intuisi
adalah hasil dari interaksi. Seperti interaksi seorang anak dengan ibu, bapak, dan
adiknya. Yang lebih rendah daripada intuisi adalah naluri atau insting. Intuisi hadir melalui pergaulan seperti
konteks mengenai indah, kecil, panjang, lebar, banyak, dan sebagainya. Konteks
tersebut terbentuk memalui interaksi seperti mengucapkan bahwa si anak cantik,
mengucapkan terima kasih, membaca doa, dan sebagaiaya. Intuisi itu tidak ingat
kapan dan dimana dia mengerti dimana itu menjadi bekal spontan untuk berpikir
karena interaksi tadi diam-diam telah meletakkan dasar-dasar kategori dalam
pikiran kita seperti yang ditemukan oleh Aristoteles sebanyak 12 kategori
sedangkan Immanuel Kant sebanyak 4 kategori yaitu kuantitatif, kualitatif, hubungan, dan modalitas. Setiap
kategori dibagi menjadi 3 aspek. Kategori kuantitatif terdiri dari universal,
particular, dan singular. Kategori kualitatif terdiri dari afirmatif, negatif,
dan infinit. Kategori hubungan terdiri dari kategori, hipotetik, dan komunitas.
Sedangkan kateori modalitas terdiri dari probabilitas, asetorik, dan apodiktik.
Jadi ketika mengatakan “banyak” itu spontan karena telah menjadi intuisi, sudah
meletakkan dasar-dasarnya. Apa yang kita pikirkan memperkokoh kategori-kategori
dan kategori-kategori itu berkembang sehingga kalau belajar kategori vertikal,
horizontal, ekstensif, dan intensif, anda menguasai statistika, ketika orang
mengatakan random maka anda mengetahuinya karena di dalam pikiran sudah
terbentuk kategori random. Pengetahuan tidak lain tidak bukan adalah kateori. Maka
keterukuran ilmu adalah kategori yang jika diekstensikan menjadi indikator atau
kriteria, maka untuk menyusun suatu instrumen dibutuhkan referensi unutk
menyusun indikator, kriteria, atau kategori. Referensi tersebut bisa berbentuk normatif
yaitu dari hasil penelitian atau jurnal, maupun refersnsi formal yaitu peraturan
perundang-undangan. Maka suatu instrumen agar valid harus dihasilkan melalui
proses bagaimana menjabarkan referensi berdasarkan kategori, indikatori, dan
kisi-kisi. Ilmu esensinya adalah ketegori yaitu alat untuk membedakan. Orang yang
berilmu bisa membedakan. Sebenar-benar ilmu adalah kalau dia mampu membedakan.
Sampai kita tua kita selalu menggunakan intuisi kita walaupun dalam kasus
tertentu kemenonjolannya tergantung pada mana yang sedang kita lihat. Contohnya
saat mengerjakan matematika bukannya tidak menggunakan intusisi tapi sedang
melihat proses pembuktiannya atau logika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar