Refleksi ini adalah
refleksi kuliah filsafat ilmu oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat tanggal
26 September pukul 10.00-11.40 WIB. Bahasa yang digunakan dalam elegi adalah
bahasa analog. Bahasa analog menembus ruang dan waktu. Tidak ada satu dzarah
pun yang ada dan yang mungkin ada itu yang tidak menembus ruang dan waktu.
Sebenar-benar hidup adalah menembus ruang dan waktu. Kita akan bisa menembus
ruang dan waktu kalau mengerti ruang dan waktunya.
Prinsip filsafat sebetulnya
ada dua, yaitu identitas dan kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, matematika
hanya benar identitas dan kontradiksi yaitu hubungan antara subjek dan
predikatnya. Subjek sama dengan predikat atau predikat termuat di dalam subjeknya.
Tidak mungkin subjek termuat dalam
predikatnya. Subjek sama dengan predikat itu identitas. Itu hanya akan terjadi
di akhirat atau pengandaian dalam pikiran. Semua matematika itu pengandaian
yang ada di dalam pikiranmu. Dimana teorema satu dan lainnya itu identik. Keidentikan
teorema 1 dan lainnya harus koheren. Sehingga matematika itu filsafatnya koherentisme.
Tetapi begitu kita turun di bumi. Tidak ada milikmu yang bisa menyamaimu. Yang
bisa sama subjek dan predikatnya di langit dan dibumi hanyalah Tuhan. Manusia
tidak akan bisa. Jika kau ingin turun ke bumi, jadilah plural. Jika mau tunggal
beradalah di langit. Sehingga menjadi aneh ketika guru matematika mengarahkan
siswa untuk memperoleh pengetahuan yang tunggal, yang sama dengan gurunya. Hal
ini tidak akan tercapai karena yang tunggal hanya ada di langit. Jadi sifat yang ada di bumi itu kontradiksi atau sintetik.
Sedangkan yang koheren bersifat analitik. Jikalau dia konsisten. Sehingga kalau
turun ke bumi plural, menjadi sintetik kontradiksi. Relatif terhadap dengan
ruang dan waktunya. Ke bumi itu sudah kontekstual sehingga butuh penjelasan. Jadi
kalau sudah aku tulis itu urusan bumi. Tidak mungkin 4=4 kalau sudah ditulis
karena di bumi terikat ruang dan waktu. Ada 4 pertama ada 4 kedua,di kiri dan
kanan. Konyol kalau tidak tahu secara komprehensif. Maka bahayanya berfilsafat
adalah ketika melakukannya secara parsial. Secara pemikiran matematika hanya
benar sebelum diucapkan dan ditulis. Apapun yang ditulis menurut filsafat adalah
salah semua. Maka menurut Kant matematika itu bukanlah suatu ilmu karena hanya
bersifat subjektivitas dan tautologi, tidak dapat menemukan sesuatu yang baru.
Menurut Kant, ilmu itu bersatunya langit dan bumi, langit pikiran dan bumi
pengalaman.
Bagaimana jika kita hidup
tanpa pengalaman? Contohnya adalah takut beruang padahal belum pernah melihat
langsung atau bertemu beruang. Artinya tidak perlu menggunakan pengalaman namun
hanya menggunakan pikiran saja sudah bisa menyimpulkan. Itu terancam hidup
kosong, terang benderang namun kosong. Bagaimana jika kita hidup dari pengalamans
saja tanpa memikirkannya? Jika kita hanya melakukan tanpa memikirkan maka kita
seperti makhluk Tuhan yang tidak dapat berpikir. Seperti kucing yang tidak
mampu menggunakan pikirannya untuk memikirkan pengalamannya. Oleh karena itu, sebagai
manusia hendaklah merefleksikan pengalaman. Pengetahuan tanpa pengalaman, jadi
kosong. Sebenar-benarnya berfilsafat
adalah ketika berusaha menembus ruang dan waktu dengan cara membaca secara
kritis.
Pertanyaan:
1. Apa
itu mitos?
2. Apa
itu logos?
3. Apakah
setiap bukan logos itu mitos?
4. Bagaimana
agar terhindar dari mitos?
5. Apa maksud dari “matematika itu jika lengkap tidak konsisten, namun jika tidak
lengkap maka konsisten”?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar