Kamis, 02 Oktober 2014

Refleksi 3 Filsafat Ilmu: pengalaman VS Pemikiran Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (14709251013), S2 Pendidikan Matematika Kelas D


Refleksi ini adalah refleksi kuliah filsafat ilmu oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat tanggal 26 September pukul 10.00-11.40 WIB. Bahasa yang digunakan dalam elegi adalah bahasa analog. Bahasa analog menembus ruang dan waktu. Tidak ada satu dzarah pun yang ada dan yang mungkin ada itu yang tidak menembus ruang dan waktu. Sebenar-benar hidup adalah menembus ruang dan waktu. Kita akan bisa menembus ruang dan waktu kalau mengerti ruang dan waktunya.
Prinsip filsafat sebetulnya ada dua, yaitu identitas dan kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, matematika hanya benar identitas dan kontradiksi yaitu hubungan antara subjek dan predikatnya. Subjek sama dengan predikat atau predikat termuat di dalam subjeknya.  Tidak mungkin subjek termuat dalam predikatnya. Subjek sama dengan predikat itu identitas. Itu hanya akan terjadi di akhirat atau pengandaian dalam pikiran. Semua matematika itu pengandaian yang ada di dalam pikiranmu. Dimana teorema satu dan lainnya itu identik. Keidentikan teorema 1 dan lainnya harus koheren. Sehingga matematika itu filsafatnya koherentisme. Tetapi begitu kita turun di bumi. Tidak ada milikmu yang bisa menyamaimu. Yang bisa sama subjek dan predikatnya di langit dan dibumi hanyalah Tuhan. Manusia tidak akan bisa. Jika kau ingin turun ke bumi, jadilah plural. Jika mau tunggal beradalah di langit. Sehingga menjadi aneh ketika guru matematika mengarahkan siswa untuk memperoleh pengetahuan yang tunggal, yang sama dengan gurunya. Hal ini tidak akan tercapai karena yang tunggal hanya ada di langit. Jadi  sifat yang ada di bumi itu kontradiksi atau sintetik. Sedangkan yang koheren bersifat analitik. Jikalau dia konsisten. Sehingga kalau turun ke bumi plural, menjadi sintetik kontradiksi. Relatif terhadap dengan ruang dan waktunya. Ke bumi itu sudah kontekstual sehingga butuh penjelasan. Jadi kalau sudah aku tulis itu urusan bumi. Tidak mungkin 4=4 kalau sudah ditulis karena di bumi terikat ruang dan waktu. Ada 4 pertama ada 4 kedua,di kiri dan kanan. Konyol kalau tidak tahu secara komprehensif. Maka bahayanya berfilsafat adalah ketika melakukannya secara parsial. Secara pemikiran matematika hanya benar sebelum diucapkan dan ditulis. Apapun yang ditulis menurut filsafat adalah salah semua. Maka menurut Kant matematika itu bukanlah suatu ilmu karena hanya bersifat subjektivitas dan tautologi, tidak dapat menemukan sesuatu yang baru. Menurut Kant, ilmu itu bersatunya langit dan bumi, langit pikiran dan bumi pengalaman.
Bagaimana jika kita hidup tanpa pengalaman? Contohnya adalah takut beruang padahal belum pernah melihat langsung atau bertemu beruang. Artinya tidak perlu menggunakan pengalaman namun hanya menggunakan pikiran saja sudah bisa menyimpulkan. Itu terancam hidup kosong, terang benderang namun kosong. Bagaimana jika kita hidup dari pengalamans saja tanpa memikirkannya? Jika kita hanya melakukan tanpa memikirkan maka kita seperti makhluk Tuhan yang tidak dapat berpikir. Seperti kucing yang tidak mampu menggunakan pikirannya untuk memikirkan pengalamannya. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaklah merefleksikan pengalaman. Pengetahuan tanpa pengalaman, jadi kosong.  Sebenar-benarnya berfilsafat adalah ketika berusaha menembus ruang dan waktu dengan cara membaca secara kritis.

Pertanyaan:
1.      Apa itu mitos?
2.      Apa itu logos?
3.      Apakah setiap bukan logos itu mitos?
4.      Bagaimana agar terhindar dari mitos?

5.      Apa maksud dari matematika itu jika lengkap tidak konsisten, namun jika tidak lengkap maka konsisten?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar