Kamis, 16 Oktober 2014

Refleksi 4: Filsafat VS anti filsafat (Positivisme)

Oleh
Nurul Husnah Mustika Sari (14709251013), S2 Pendidikan Matematika Kelas D

Artikel ini merupakan refleksi kuliah filsafat oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat tanggal 10 Oktober 2014 pukul 10.00-11.40 WIB. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. yang ada dan yang mungkin ada tersebut bisa tetap ataupun berubah.  Tokoh dari yang tetap adalah Permenides, alirannya Permenidesianism, sedangkan tokoh dari yang berubah adalah Heraclitos, aliran filsafatnya disebut Heraclitosism. Yang tetap berada dalam pikiran, alirannya adalah Platonism yang kemudian dikenal dengan idealism. Yang berubah berada di luar pengalaman pikiran, alirannya Aristotelenianism yang kemudian dikenal dengan realism. Yang tetap bersifat analitic a priori yaitu rasio sehingga muncul aliran rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes, sedangkan yang berubah bersifat sintetic a posteriori yaitu pengalaman memunculkan aliran empirisisme dengan tokohnya David Hume. Analitic bersifat konsisten sehingga muncul filsafat koherenisme. Sintetik benarnya karena pengalaman, hal yang terlihat, sehingga muncul filsafat korespondenism. Menurut Immanuel Kant, pengetahuan bersifat sintetik a priori. A priori berarti bisa memikirkan walaupun belum melihat.

Begitulah filsafat berkembang sampai muncul suatu aliran positivisme yang diperkenalkan oleh Auguste Comte. Positivisme bersifat anti filsafat. Padahal anti filsafat adalah berfilsafat itu sendiri, hanya saja dengan pemikiran yang bertolak belakang. Menurut Auguste Comte, filsafat tidak ada gunanya, hanya omong kosong. Untuk membangun masyarakat haruslah ada tindakan yang nyata. Menurut positivism, struktur kehidupan dimulai dari yang paling bawah adalah tribal, tradisional, feodal, modern, post modern, post post modern, power now. Menurut struktur tersebut, spiritual berada di level paling bawah, spiritual paling tinggi hanya di daerah tradisional. Setelah spiritual yaitu filsafat, kemudian modern. Hal ini berarti semakin tinggi spiritualnya semakin terbelakang orang tersebut. Struktur ini sangat bertentangan dengan filsafat kita yang mana dalam struktur filsafat kita, spiritual berada di puncak, spiritual adalah hal yang paling tinggi. Pemikiran Auguste Comte ini telah berkembang sedemikian sehingga saat ini tanpa sadar kita telah banyak terpengaruh oleh pemikiran ini. Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan yang diunggulkan hanyalah kemampuan akademik. Padahal keunggulan akademik tanpa dasar spiritualisme yang kuat akan membawa bencana. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita dengan spiritualisme yang kuat agar kemampuan akademik kita dapat memberikan manfaat, bukan bencana, untuk orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar