Oleh
Nurul Husnah Mustika Sari (14709251013), S2
Pendidikan Matematika Kelas D
Artikel
ini merupakan refleksi kuliah filsafat oleh Prof Dr Marsiigt MA pada hari jumat
tanggal 10 Oktober 2014 pukul 10.00-11.40 WIB. Obyek filsafat adalah yang ada
dan yang mungkin ada. yang ada dan yang mungkin ada tersebut bisa tetap ataupun
berubah. Tokoh dari yang tetap adalah
Permenides, alirannya Permenidesianism, sedangkan tokoh dari yang berubah
adalah Heraclitos, aliran filsafatnya disebut Heraclitosism. Yang tetap berada
dalam pikiran, alirannya adalah Platonism yang kemudian dikenal dengan
idealism. Yang berubah berada di luar pengalaman pikiran, alirannya
Aristotelenianism yang kemudian dikenal dengan realism. Yang tetap bersifat analitic a priori yaitu rasio sehingga
muncul aliran rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes, sedangkan yang
berubah bersifat sintetic a posteriori
yaitu pengalaman memunculkan aliran empirisisme dengan tokohnya David Hume. Analitic
bersifat konsisten sehingga muncul filsafat koherenisme. Sintetik benarnya
karena pengalaman, hal yang terlihat, sehingga muncul filsafat korespondenism.
Menurut Immanuel Kant, pengetahuan bersifat sintetik
a priori. A priori berarti bisa
memikirkan walaupun belum melihat.
Begitulah
filsafat berkembang sampai muncul suatu aliran positivisme yang diperkenalkan
oleh Auguste Comte. Positivisme bersifat anti filsafat. Padahal anti filsafat adalah
berfilsafat itu sendiri, hanya saja dengan pemikiran yang bertolak belakang. Menurut
Auguste Comte, filsafat tidak ada gunanya, hanya omong kosong. Untuk membangun
masyarakat haruslah ada tindakan yang nyata. Menurut positivism, struktur
kehidupan dimulai dari yang paling bawah adalah tribal, tradisional, feodal,
modern, post modern, post post modern, power now. Menurut struktur tersebut,
spiritual berada di level paling bawah, spiritual paling tinggi hanya di daerah
tradisional. Setelah spiritual yaitu filsafat, kemudian modern. Hal ini berarti
semakin tinggi spiritualnya semakin terbelakang orang tersebut. Struktur ini
sangat bertentangan dengan filsafat kita yang mana dalam struktur filsafat
kita, spiritual berada di puncak, spiritual adalah hal yang paling tinggi. Pemikiran
Auguste Comte ini telah berkembang sedemikian sehingga saat ini tanpa sadar
kita telah banyak terpengaruh oleh pemikiran ini. Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan
yang diunggulkan hanyalah kemampuan akademik. Padahal keunggulan akademik tanpa
dasar spiritualisme yang kuat akan membawa bencana. Oleh karena itu, kita harus
membentengi diri kita dengan spiritualisme yang kuat agar kemampuan akademik
kita dapat memberikan manfaat, bukan bencana, untuk orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar