Pada perkuliahan filsafat 28
November 2012 ini, Prof Marsigit menjelaskan mengenai persoalan-persoalan yang
ada pada filsafat. Persoalan-persoalan filsafat ini disampaikan oleh Prof
Marsigit dengan pendekatan kehidupan sehari-hari kami semua serta diselingi
dengan cerita-cerita spiritual.
Persoalan filsafat dialami
orang sejak dahulu hingga sekarang yaitu apa yang pantas dipikrkan, tidak
pantas dipikirkan itu apa, kalu kita bisa berpikir sejauh mana kita dapat
memikirkannya, selanjutnya bagaimana cara berpikir, metode-metodenya. Hal itu
merupakan persoalan sejak awal adanya manusia karena setiap manusia mempunyai
pikiran. Yang berbeda hanyalah tingkatannya. Atau dimensi kualitas dan
ektensivitasnya. Pada saat jaman Yunani orang mempunyai mitos, sekarang pun
kita punya. Mitos tidak selamanya negatif karena anak kecil tidak belajar
melalui pemahaman terlebih dahulu namun melakukan apa-apa yang tidak
dimengertinya, itu disebut sebagai mitos. Mitos adalah melakukan pekerjaan di
mana kita tidak mengerti maknanya. Kita pun kadang seperti itu. Mitos sejalan
dengan intuisi.
Seperti yang telah dijelaskan
oleh Prof Parsigit pada pertemuan sebelumnya
mengenai intuisi, anak kecil sejatinya belajar melalui intuisi seperti paanjang
pendek, lama sebentar. Anak kecil 90% belajarnya melalui intuisi. Pada anak
kecil, hampir semua aspeknya adalah mitos. Kalau dilihat dari produknya itu
mitos tapi kalau dilihat dari prosesnya itu intuisi. Intuisi diperoleh dari
interaksi dengan lingkungan, komunikasi, dsb. sebagai contoh seseorang
mengetahui konsep cantik pada usia yang berbeda-beda, salah satu yang memengaruhinya
adalah pengaruh keluarga seperti keterbukaan keluarga, komunikasi keluarga,
dsb.
Salah satu contoh mitos Yunani
adalah pelangi sebagai jembatan para dewa. Sedangkan contoh mitos jaman sekaran
adalah adanya Nyai Roro Kidul. Karena merupakan mitos maka orang-orang tidak
berani untuk memikirkannya, berat bagi orang-orang untuk memikirkannya. Mitos
memiliki kelebihan dan kekurangan. Segala yang ada dan yang mungkin ada memang
memiliki dua sisi, kelebihan dan kekurangan. Contoh kelebihannya adalah orang
menjadi lebih santun, segan, menjaga dan melestarikan Laut selatan. Mitos bagi
seseorang belum tentu mitos bagi orang yang lain. Kita pun bisa membuat mitos
untuk orang lain. Kalau kita melaksanakannya tanpa tahu maksudnya maka itu
merupakan mitos. Filsafat makro seperti filsafat Yunani dan Eropa direfleksikan
kepada filsafat mikro pada diri kita.
Dahulu seorang pejabat pernah
berkata untuk menyamakan hati, pikiran, dan tindakan. Dari segi filsafat hal
itu sangat sulit untuk diwujudkan karena domain pikiran itu serempak atau
parallel sedangkan domain perkataan dan tindakan itu satu persatu atau seri.
Namun sejatinya maksud dari perkataan tersebut adalah secara pragmatis yaitu
marilah kita berbuat bijaksana.
Bagaimana kita bisa
mengintensif dan mengekstensifkan pikiran dan hati kita. Kita bisa mempercayai
adanya Nabi dari kitab suci Al-Qur’an, sunah Rasul, buku agama, guru, serta
para pemuka agama. Suatu ketika, para sahabat bertanya mengenai wajah
rasulullah yang kemudian dijawab oleh beliau dengan mempersilahkan para sahabat
melihat telinga putra rasrulullah. Pada saat itu hanya Abu Bakar RA yang
menolak. Wajah rasulullah dipandang dan dipikirkan melalui hati yaitu
Nurmuhammad. Abu bakar asshidiq merupakan orang yang mampu melihat nurmuhammad
itu. Pada setiap jamannya terdapat guru-guru spiritual seperti Abu Bakar As
shidiq. Salah satu guru spiritual yang terkenal pada jamannya adalah Syeikh
Abdul Qadir Jaelani yang menjalani setiap kegiatannya dengan ikhlas. Ikhlas
bukan merupakan hal yang mudah. Untuk menjadi orang yang ikhlas dibutuhkan
usaha-usaha. Sejatinya, saya sendiri pun masih belum memahami bagaimana cara
agar bisa menjadi manusia yang selalu ikhlas.
Di dunia ini, terdapat hal-hal
yang tidak dapat kita pikirkan secara rasional namun ada seperti adanya
benda-benda ghaib seperti adanya hantu. Contoh lainnya adalah antara takdir dan
nasib. Takdir dan nasib tidak dapat kita perkirakan. Namun ada orang-orang
tertentu yang mungkin dapat memperkirakannya, orang-orang yang menguasai ilmu
titen. Dalam filsafat, hal yang tidak dapat kita pikirkan disebut sebagai
noumena.
Dalam budaya jawa, terdapat
beberapa orang yang perlu diruwat supaya sadar terhadap dirinya sendiri.
Orang-orang yang perlu diruwat itu misalnya adalah orang yang sering mengalami
kecelakaan, orang yang sering sakit, anak semawat wayang, dsb. Ruwatan jaman
sekarang adalah dengan mempelajari filsafat supaya dapat mengetahui diri kita
sendiri. Dengan belajar filsafat kita akan memikirkan apa yang kita pikirkan.
Memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada sehingga kita akan sadar terhadap
diri kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar