Pada pertemuan kali ini bapak
Marsigit mengungkapkan berbagai hal mengenai menembus ruang dan waktu yang
meliputi bekal apa sajaserta bagaimana caranya. Segala yang ada dan yang
mungkin ada sebenar-benarnya sedang menembus ruang dan waktu. Mengalami masa lampau,
sekarang , dan yang akan datang. Menembus ruang dan waktu bisa sangat sulit
bisa sangat mudah, misalnya tidur. Menembus ruang dan waktu itu berdimensi
meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang tidak kita ketahui juga menembus
ruang dan waktu misalnya kesempatan.
Terdapat tiga hal pokok yang
,menjadi bekal supaya orang dapat menembus ruang dan waktu.:
1.
Paham ruang dan
waktu
2.
Memahami tentang
adanya filsafat fenomenologis
3.
Memahami filsafat foundasionalisme dan antifoundasionalisme
Berikut ini adalah penjelasan
lebih lanjut mengenai ketiga hal pokok tersebut:
1.
Ruang berdimensi,
secara umum ada ruang berdimensi 1,2,3,4, dst. Namun terdapat ruang-ruang yang
lain baik secara vertikal maupun horisontal. Salah satu ruang adalah ruangnya berfilsafatnya versi kaum
spiritualis, mulai dari materialisme, formalisme, formatif, dan spiritual.
Setiap saat tiadalah orang yang menembus ruang. Sekaligus kita adalah material,
formal, normatif, dan spiritual, sekaligus kita adalah ruang berdimensi tak berhingga.
Spiritual ada yang tingkat nol sampai yang tingkat teritinggi. Serendah-rendahnya
spiritual manusia adalah kalau dia tidak percaya terhadap adanya Tuhan.
Normatif itu ilmu. Orang yang tidak berilmu seperti orang gila juga mempunyai pengetahuan, walaupun tidak memiliki
kategoti, secara psikologis disebut disoerientasi, secara filsafat kategorinya
kacau. Tidak bisa membedakan lelaki dan perempuan, jarak, dsb. Tidak bisa
mengkategorikan yang efisien dan tidak efisien, itu disebiut dimensi ruang.
Untuk Menembus ruang dan waktu. Materialnya orang sholat
itu sujud, normatifnya berdoa, namun sujud itu juga normatif dan spiritual. Terdapat
tiga macam waktu, Waktu itu berurutan, berkelanjutan dan berkesatuan.
2.
Kita bisa menyebut
berapa waktu itu menggunakan fenomenologis, tokohnya adalah husserr. Isi pokok
dari fenomenologi adalah abstraksi dan idealism. Sebenar-benar manusia itu
abstraksi karena kita hanya bisa melihat satu titik tidak bisa melihat semua
titik, banyak titik tapi tidak bisa semua titik, maka kita harus memilih mana
obyek yang akan dilihat. Manusia mempunyai kelebihan melihat objek yang di
depan dan kelemahan melihat objek yang berada di belakang dirinya, berlawanan
dengan kondisi mata anda. Abstraksi, memilih, memilih mana yang dilihat,
memilih apa yang dipikirkan, memilih apa yang dibicarakan. Abstraksi atau bisa
disebut juga dengan reduksi. Hakikat manusia adalah abstraksi. Misalnya kita
tidak bisa dilahirkan di mana-mana. Dari bermilyar-milyar ibu, memilih satu itu
merupakan reduksi yang hebat. Sehinga Husser
harus membuat rumah besar yang dipakai untuk menampung yang tidak kita pikirkan
yang disebut sebagai rumah epoke, bahasa awamnya lupakanlah, bahasa filsafatnya
dimasukkan ke dalam rumah epokke. Rumah epoke selalu kita gunakan, baik dalam
spiritual maupun dalam matematika, sebagai contoh saat belajar segitiga, kita
tidak memikirkan warna, bahan, harga, dan aromanya. Yang dipikirkan hanyalah
bentuk dan ukurannya. Ilmu, materialnya adalah ilmu, formalnya adalah ilmu
pengetahuan, normatifnya adalah logos atau fisafat spiritualnya adalah
ciptaan-ciptaan tuhan.
3.
The foundation
dan antifoundation. Sebenar benar anti foundation adalah intuisi. Setiap
orang beragama pasti adalah kaum foundasionalisme karena menetapkan Tuhan
adalah causa prima sebab dari segala sebab. Semua orang yang menikah adalahkaum
foundasoinalisme yang foundamennya adalah ijab kobul. Semua kaum pure
mathematisian adalah kaum found karena dia berangkat dari definisi-definisi.
Foundalism itu harus dipotong, memotong artinya memulai. Jika engkau tahu kapan
engkau memulai maka engkau termasuk kaum foundasionalism. Tapi lebih banyak
lagi dunia ini separuhnya tidak tahu kapan dimulainya itu lah yang disebut
antifoundasionalism. Maka hakekat manusia adalah foundasionalism dan antifoundasionalism,
intuisi. Manusia bahkan tidak tahu sejak kapan ia dapat membedakan besar dan
kecil. Itulah yang disebut dengan intuisi. Mengerti besar dan kecil itu tidak
perlu definisi, jadi intuisi tidak memerlukan definisi,
Matematika di sekolah gagal karena siswa telah terampas
intuisinya. Contoh ketika ditanya apakah itu dua jawabannnya adalah 1+1, 2x1,
3-1, dsb. Padahal secara intusi manusia punya dua telinga dua tangan. Karena
definisi kita kehilangan intuisi. Bahkan kasih sayang dan doa butuh intuisi. Besar,
kecil, panjang, pendek, lebar, sempit, merupakan intuisi ruang. Lama dan sebentar
merupakan intuisi waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar