Selasa, 04 Desember 2012

Refleksi kuliah filsafat 4 (7 November 2012): Menembus Ruang dan Waktu Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (09301241027)





Pada pertemuan kali ini bapak Marsigit mengungkapkan berbagai hal mengenai menembus ruang dan waktu yang meliputi bekal apa sajaserta bagaimana caranya. Segala yang ada dan yang mungkin ada sebenar-benarnya sedang menembus ruang dan waktu. Mengalami masa lampau, sekarang , dan yang akan datang. Menembus ruang dan waktu bisa sangat sulit bisa sangat mudah, misalnya tidur. Menembus ruang dan waktu itu berdimensi meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang tidak kita ketahui juga menembus ruang dan waktu misalnya kesempatan.
Terdapat tiga hal pokok yang ,menjadi bekal supaya orang dapat menembus ruang dan waktu.:
1.      Paham ruang dan waktu
2.      Memahami tentang adanya filsafat fenomenologis
3.      Memahami filsafat foundasionalisme dan antifoundasionalisme
Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga hal pokok tersebut:
1.      Ruang berdimensi, secara umum ada ruang berdimensi 1,2,3,4, dst. Namun terdapat ruang-ruang yang lain baik secara vertikal maupun horisontal.  Salah satu ruang  adalah ruangnya berfilsafatnya versi kaum spiritualis, mulai dari materialisme, formalisme, formatif, dan spiritual. Setiap saat tiadalah orang yang menembus ruang. Sekaligus kita adalah material, formal, normatif, dan spiritual, sekaligus kita adalah ruang berdimensi tak berhingga. Spiritual ada yang tingkat nol sampai yang tingkat teritinggi. Serendah-rendahnya spiritual manusia adalah kalau dia tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Normatif itu ilmu. Orang yang tidak berilmu seperti orang gila juga  mempunyai pengetahuan, walaupun tidak memiliki kategoti, secara psikologis disebut disoerientasi, secara filsafat kategorinya kacau. Tidak bisa membedakan lelaki dan perempuan, jarak, dsb. Tidak bisa mengkategorikan yang efisien dan tidak efisien, itu disebiut dimensi ruang.
Untuk Menembus ruang dan waktu. Materialnya orang sholat itu sujud, normatifnya berdoa, namun sujud itu juga normatif dan spiritual. Terdapat tiga macam waktu, Waktu itu berurutan, berkelanjutan dan berkesatuan.
2.      Kita bisa menyebut berapa waktu itu menggunakan fenomenologis, tokohnya adalah husserr. Isi pokok dari fenomenologi adalah abstraksi dan idealism. Sebenar-benar manusia itu abstraksi karena kita hanya bisa melihat satu titik tidak bisa melihat semua titik, banyak titik tapi tidak bisa semua titik, maka kita harus memilih mana obyek yang akan dilihat. Manusia mempunyai kelebihan melihat objek yang di depan dan kelemahan melihat objek yang berada di belakang dirinya, berlawanan dengan kondisi mata anda. Abstraksi, memilih, memilih mana yang dilihat, memilih apa yang dipikirkan, memilih apa yang dibicarakan. Abstraksi atau bisa disebut juga dengan reduksi. Hakikat manusia adalah abstraksi. Misalnya kita tidak bisa dilahirkan di mana-mana. Dari bermilyar-milyar ibu, memilih satu itu merupakan reduksi yang  hebat. Sehinga Husser harus membuat rumah besar yang dipakai untuk menampung yang tidak kita pikirkan yang disebut sebagai rumah epoke, bahasa awamnya lupakanlah, bahasa filsafatnya dimasukkan ke dalam rumah epokke. Rumah epoke selalu kita gunakan, baik dalam spiritual maupun dalam matematika, sebagai contoh saat belajar segitiga, kita tidak memikirkan warna, bahan, harga, dan aromanya. Yang dipikirkan hanyalah bentuk dan ukurannya. Ilmu, materialnya adalah ilmu, formalnya adalah ilmu pengetahuan, normatifnya adalah logos atau fisafat spiritualnya adalah ciptaan-ciptaan tuhan.
3.      The foundation dan antifoundation. Sebenar benar anti foundation adalah intuisi. Setiap orang beragama pasti adalah kaum foundasionalisme karena menetapkan Tuhan adalah causa prima sebab dari segala sebab. Semua orang yang menikah adalahkaum foundasoinalisme yang foundamennya adalah ijab kobul. Semua kaum pure mathematisian adalah kaum found karena dia berangkat dari definisi-definisi. Foundalism itu harus dipotong, memotong artinya memulai. Jika engkau tahu kapan engkau memulai maka engkau termasuk kaum foundasionalism. Tapi lebih banyak lagi dunia ini separuhnya tidak tahu kapan dimulainya itu lah yang disebut antifoundasionalism. Maka hakekat manusia adalah foundasionalism dan antifoundasionalism, intuisi. Manusia bahkan tidak tahu sejak kapan ia dapat membedakan besar dan kecil. Itulah yang disebut dengan intuisi. Mengerti besar dan kecil itu tidak perlu definisi, jadi intuisi tidak memerlukan definisi,
Matematika di sekolah gagal karena siswa telah terampas intuisinya. Contoh ketika ditanya apakah itu dua jawabannnya adalah 1+1, 2x1, 3-1, dsb. Padahal secara intusi manusia punya dua telinga dua tangan. Karena definisi kita kehilangan intuisi. Bahkan kasih sayang dan doa butuh intuisi. Besar, kecil, panjang, pendek, lebar, sempit, merupakan intuisi ruang. Lama dan sebentar merupakan intuisi waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar