Tanpa terasa, satu semester sudah saya belajar filsafat
pendidikan matematika bersama Bapak Marsigit dan teman-teman bilingual. Selama satu
semester ini, kami berusaha memahami apa itu filsafat khususnya filsafat
pendidikan matematika. Pada awalnya,
mendengar kata filsafat begitu terasa menakutkan namun setelah menyelami lebih
dalam, sebuah pengertian mulai terbentuk bahwa filsafat akan memperkuat
spiritualitas kita jika kita menggunakan spiritualitas sebagai payung dalam
berfilsafat. Setinggi-tingginya seseorang dalam berfilsafat,
tidak boleh melebihi spiritual. Setinggi-tingginya seseorang dalam berolah
pikir, tidak boleh melebihi keyakinan.
Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Filsafat itu
seperti kromosom pada genetika, yaitu mempunyai struktur, yang mana struktur
tersebut sama dimanapun. Filsafat makro pada dunia mempunyai struktur yang sama
dengan filsafat negara, kaum industrial trainer, kaum old humanis, serta sama
dengan filsafatku. Yang berbeda hanya content
dan metodenya. Struktur tersebut adalah ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi
adalah hakekat. Epistimologi adalah metode. Sedangkan aksiologi adalah nilai
atau norma yang berlaku dalam kehidupan manusia. Namun, sejatinya epistimologi
tidak hanya metode, tetapi juga sumber pengetahuan, kebenaran ilmiah,
pengembangan ilmu. Ontologi dan epistimologi tidak dapat saling dipisahkan. Ketika
kita mengatakan hakekat maka itu ontologi. Hakekat tidak akan pernah bisa kita
temukan kalau tidak dipikirkan. Memikirkan/mempelajari hakekat merupakan
epistimologi. Hakekat merupakan ontologi, namun apa itu hakikat merupakan
epistimologi. Epistimologi merupakan teori berpikir. Ketiga struktur tersebut
sangat penting dan merupakan satu kesatuan. Semua yang kita pelajari(apa yang
ditulis, dibicarakan) adalah epistimologi sehingga ada yang menyebut
epistimologi dengan filsafat ilmu. Filsafat ilmu adalah filsafat itu sendiri.
Berfilsafat itu
berpikir yang reflektif yang mencakup olah pikir kita dan pengalaman kita. Ada
berpikir yang tidak memakai pengalaman dan juga pengalaman yang tidak memakai
berpikir. Sebagian besar manusia tidak memikirkan pengalamannya dan tugas
filsafat adalah memikirkan pengalaman-pengalaman tersebut. Tata cara
berfilsafat itu kontekstual. Berbeda antar suatu bangsa dengan bangsa yang
lain. Semua yang makro itu relevan. Sebagai contoh, bapaknya perubahan itu
Heraclitos. Diriku berubah umurnya, berat tubuhnya, dan sebagainya. Bapaknya yang
tetap adalah Permenides. Diriku adalah tetap makhluk ciptaan Tuhan. Tetap dan
berubah merupakan suatu kontradiksi namun berdasarkan contoh tersebut,
pernyataan tersebut benar. Yang perlu kita pikirkan adalah objeknya (menjawab
pertanyaan “apanya?”). Untuk melihat mikronya, kita hanya perlu melihat pada diri
kita sendiri. Dunia itu persis seperti apa yang kita pikirkan.
Dalam belajar filsafat, terdapat beberapa asumsi yang
harus disepakati. Asumsi yang pertama adalah bahwa kami(pembelajar) telah
dewasa. Menurut saya, asumsi dewasa ini ada karena di filsafat kita
membicarakan sesuatu dengan berbagai sudut pandang yang didalamnya sering atau
malah selalu terjadi kontradiksi sehingga jika yang mempelajari filsafat
belumlah dewasa maka boleh jadi atau malah pasti orang itu akan menjadi
tersesat. Hatinya menjadi bingung, galau dan jauh dari Tuhan. Bagi saya, dewasa
berarti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan
mana yang salah. seperti yang diungkapkan oleh Bapak Marsigit, baik dan benar itu
sangat relatif dan kontekstual, bisa di awal, tengah, dan akhir. Setiap yang
ada dan mungkin ada memiliki ukuran kebenaran masing-masing. Maka cara yang
baik adalah dengan menaati norma-norma. Asumsi yang kedua adalah bahwa kami sedang melaju cepat, seperti kereta
yang berjalan dengan cepatnya namun kemudian diminta untuk berhenti sejenak
untuk berfilsafat. Oleh karena itu, kami memerlukan sedikit penyesuaian serta
perlu memahami arti sebenarnya dari filsafat. Asumsi yang ketiga adalah
filsafat itu hidup. Hidup itu adalah ada pikiran, kenyataan, ada daya, ada
upaya. Hidup ini adalah proses yang sebenarnya proses itu hasil. Hidup adalah
jarak antara takdir dan ikhtiar yang mana ikhtiar itu sendiri adalah takdir. Asumsi
yang keempat adalah sifat hidup sehat. Sehat berarti jujur, tidak munafik. Hidup
sehat akan terjadi jika kita selalu menyeimbangkan diri kita. Hidup sehat itu
jikalau kita terhindar dari jebakan filsafat. Bukan berpura-pura sadar,
berpura-pura ikhlas, berpura-pura memahami namun sebenarnya tidak memahami. Maka berfilsafat haruslah santun yang berarti sadar dan
mengerti. Bersikap sesuai dengan pengetahuannya itu.
Obyek dari
filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga, objek dari
filsafat pendidikan matematika adalah segala yang ada dan yang mungkin ada
dalam pendidikan matematika. Seperti yang telah diungkapkan oleh bapak
Marsigit, “ada” dicirikan jika sesuatu itu nyata. Sesuatu itu nyata jika dapat ditunjukkan sifat-sifatnya. “ada” bisa
berada di dalam pikiran maupun di luar pikiran. Objek
yang ada adalah segala sesuatu atau hal yang bisa dilihat, bisa didengar dan
dapat dipikirkan. Selain itu, hal yang ada adalah sesuatu yang sudah diketahui. Mungkin ada dapat diartikan sebagai sesuatu yang
mempunyai potensi untuk ada namun belum muncul sebagai suatu kenyataan. Yang mungkin
ada terdapat dalam pikiran. Sejatinya, hidup ini setiap saat adalah mengubah
dari yang mungkin menjadi ada, dari yang kecil menjadi besar, sadar atau pun
tidak sadar.
Tujuan filsafat adalah
supaya kita mampu memikirkan hal-hal di sekitar kita. Sedangkan manfaat belajar
filsafat adalah sama dengan manfaat berpikir. Filsafat bersumber dari keragu-raguan.
Namun keragu-raguan tersebut sebaiknya tidak kita tujukan kepada spiritualitas
kita. Ketika berfilsafat kemudian merasa bingung, ingatlah Allah dengan
beristighfar, berwudhu, dan sholat. Manusia harus terus meminta pertolongan
kepada Tuhan.
Metode berfilsafat adalah dengan terjemah dan
menterjemahkan (hermeunitika). Hermeunitika
digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena hermeunitika adalah komunikasi
yang lurus dan berimbang. Lurus berarti tidak akan melakukan hal yang sama
karena menembus ruang dan waktu. Hal ini membutuhkan kesadaran. Setiap manusia
memiliki kesadaran yang berbeda karena tergantung ruang dan waktunya. Terjemah
dan menerjemahkan dalam filsafat artinya berinteraksi yang refleksif. Setiap
hal yang ada di dunia ini saling berinteraksi satu sama lainnya. Manusia,
hewan, tumbuh-tumbuhan, material, lingkungan, bahkan batu pun saling
berinteraksi dengan lingkungan. Ketika kita berfilsafat, tidak jarang pendapat kita berbeda dengan pendapat
orang lain. Jikalau memang terjadi demikian, perbedaan tersebut dapat
didialogkan, yang dalam filsafat disebut sebagai dialektika. Dalam filsafat,
terdapat tesis, anti tesis, dan sintesis. Tesis adalah yang ada dan yang mungkin
ada. Ambil satu tesis, misal A, maka antitesisnya adalah selain A. Ketika tesis dan antitesis bertemu di dunia nyata maka
akan muncul sintesis. Sintesis adalah hasil akhir dari percobaan untuk
menggabungkan antara thesis dan antithesis. Sintesis kemudian bisa menjadi Thesis
dan kemudian menemukan Antithesisnya dan melahirkan Sintesis baru. Demikian seterusnya. Dalam pandangan saya,
dialektika yang dimaksud tidak hanya dapat terjadi antara satu orang dengan
orang yang lain, namun juga dapat terjadi dalam pikiran kita sendiri. Dalam
pikiran seorang manusia kadang atau malah sering terdapat pendapat yang saling
berkontradiksi, untuk mengatasi hal tersebut, kita pikiran kita harus
berdialog, memerinci pendapat-pendapat yang terdapat dalam pikiran kita, yang
kemudian mengambil keputusan mengenai mana pemikiran yang lebih baik. Dalam
mengambil keputusan tersebut, kita harus memperhatikan fakta-fakta yang ada
serta memperhatikan akibat dari pemikiran kita tersebut.
Filsafat merupakan dua sisi mata uang yang saling
berlawanan. Di dalam filsafat terdapat hukup identitas maupun kontradiksi. Kontradiksi
merupakan kebalikan dari hukum identitas. Contoh hukum identitas adalah satu
sama dengan satu. Sedangkan contoh hukum kontradiksi adalah satu tidak sama
dengan satu karena satu yang pertama kita ucapkan si awal sedangkan satu yang
berikutnya kita ucapkan di akhir. Identitas terjadi karena kita tidak
memperhatikan ruang dan waktu, sedangkan kontradiksi terjadi karena kita memperhatikan
ruang dan waktu. Ketika mempelajari
filsafat, kita harus selalu memikirkan dua sisi tersebut, identitas dan
kontradiksi, baik dan buruk, siang dan malam, tetap dan berubah, sepi dan
ramai, dan sebagainya. Dengan melihat dari dua sisi tersebut, maka kita sudah
berusaha menjadi orang yang bijak.
Setiap manusia
mengalami perubahan. Melakukan perubahan sama artinya dengan menembus ruang dan
waktu. Terdapat tiga hal pokok yang dapat menjadi bekal supaya orang dapat
menembus ruang dan waktu, yaitu:
1.
Paham ruang dan waktu
2.
Memahami tentang adanya filsafat fenomenologis
3.
Memahami filsafat foundasionalisme
dan antifoundasionalisme
Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga hal pokok
tersebut:
1.
Ruang itu terdiri atas wadah
dan isi. Segala hal yang ada dan mungkin ada (objek pikiran) pasti memiliki
wadah dan isinya masing-masing. Ruang berdimensi, secara umum ada ruang
berdimensi 1,2,3,4, dst. Namun terdapat ruang-ruang yang lain baik secara
vertikal maupun horisontal. Salah satu
ruang adalah ruangnya berfilsafatnya
versi kaum spiritualis, mulai dari materialisme, formalisme, formatif, dan
spiritual. Setiap saat tiadalah orang yang menembus ruang. Sekaligus kita
adalah material, formal, normatif, dan spiritual, sekaligus kita adalah ruang
berdimensi tak berhingga. Spiritual ada yang tingkat nol sampai yang tingkat
teritinggi. Serendah-rendahnya spiritual manusia adalah kalau dia tidak percaya
terhadap adanya Tuhan. Normatif itu ilmu. Materialnya orang sholat itu sujud,
normatifnya berdoa, namun sujud itu juga normatif dan spiritual. Untuk bisa mengetahui ruang,
ternyata kita harus mengetahui waktu. Maka cara untuk mengetahui ruang adalah
dengan menggunakan waktu. Terdapat tiga macam waktu,
yakni waktu yang berurutan, waktu yang berkelanjutan dan waktu yang berkesatuan
yang artinya waktu itu tidak dapat dipisah-pisahkan.
2.
Memahami adanya filsafat fenomenologis. Isi pokok dari
fenomenologi adalah abstraksi dan idealism. Abstraksi, memilih, memilih mana
yang dilihat, memilih apa yang dipikirkan, memilih apa yang dibicarakan.
Abstraksi atau bisa disebut juga dengan reduksi. Salah satu contohh abstraksi
adalah kita tidak bisa dilahirkan di mana-mana. Dari bermilyar-milyar ibu,
memilih satu itu merupakan reduksi yang
hebat. Sehinga Husser harus membuat rumah besar yang dipakai untuk
menampung yang tidak kita pikirkan yang disebut sebagai rumah epoke. Rumah
epoke selalu kita gunakan, baik dalam spiritual maupun dalam matematika,
sebagai contoh saat belajar segitiga, kita tidak memikirkan warna, bahan,
harga, dan aromanya. Yang dipikirkan hanyalah bentuk dan ukurannya. Ilmu,
materialnya adalah ilmu, formalnya adalah ilmu pengetahuan, normatifnya adalah
logos atau fisafat spiritualnya adalah ciptaan-ciptaan tuhan.
3.
The foundation dan antifoundation. Sebenar benar anti foundation adalah intuisi. Setiap
orang beragama pasti adalah kaum foundasionalisme karena menetapkan Tuhan
adalah causa prima sebab dari segala sebab. Jika kita tahu kapan kita memulai
maka kita termasuk kaum foundasionalism. Tapi lebih banyak lagi dunia ini
separuhnya tidak tahu kapan dimulainya itu lah yang disebut
antifoundasionalism. Maka hakekat manusia adalah foundasionalism dan
antifoundasionalism, intuisi. Manusia bahkan tidak tahu sejak kapan ia dapat
membedakan besar dan kecil. Itulah yang disebut dengan intuisi. Mengerti besar
dan kecil itu tidak perlu definisi, jadi intuisi tidak memerlukan definisi.
Seperti objeknya, pada dasarnya terdapat dua persoalan
filsafat, yaitu apa yang ada di dalam pikiranmu dan apa yang tidak ada dalam
pikiranmu. Apa yang ada di dalam pikiranmu harus dapat engkau jelaskan kepada
oranglain. Sedangkan untuk sesuatu yang berada di luar pikiranmu, masalahnya adalah
bagaimana engkau dapat mengetahuinya. Manusia hanya berusaha menjelaskan.
Manusia tidak mungkin mampu menjelaskan apa yang ada dan yang mungkin ada
dengan jelas karena si Maha menjelaskan adalah ALLAH. Persoalan filsafat
dialami orang sejak dahulu hingga sekarang yaitu apa yang pantas dipikrkan,
tidak pantas dipikirkan itu apa, kalu kita bisa berpikir sejauh mana kita dapat
memikirkannya, selanjutnya bagaimana cara berpikir, metode-metodenya. Hal itu
merupakan persoalan sejak awal adanya manusia karena setiap manusia mempunyai
pikiran. Yang berbeda hanyalah tingkatannya. Atau dimensi kualitas dan
ektensivitasnya.
Mitos adalah melakukan pekerjaan di mana kita tidak
mengerti maknanya. Pada saat jaman Yunani orang mempunyai mitos, sekarang pun
kita punya. Salah satu contoh mitos Yunani adalah pelangi sebagai jembatan para
dewa. Sedangkan contoh mitos jaman sekaran adalah adanya Nyai Roro Kidul.
Karena merupakan mitos maka orang-orang tidak berani untuk memikirkannya, berat
bagi orang-orang untuk memikirkannya. Mitos bagi seseorang belum tentu mitos
bagi orang yang lain. Kita pun bisa membuat mitos untuk orang lain. Kalau kita
melaksanakannya tanpa tahu maksudnya maka itu merupakan mitos.
Dengan mempelajari filsafat, saya menjadi tahu bahwa anak-anak tidak
belajar melalui pemahaman terlebih dahulu namun melakukan apa-apa yang tidak
dimengertinya, itu disebut sebagai mitos. Anak-anak sejatinya 90% belajarnya
melalui intuisi melalui intuisi seperti panjang pendek, lama sebentar. Kalau
dilihat dari produknya itu mitos tapi kalau dilihat dari prosesnya itu intuisi.
Intuisi diperoleh dari interaksi dengan lingkungan, komunikasi, dsb. Sebagai
contoh seseorang mengetahui konsep cantik pada usia yang berbeda-beda, salah
satu yang memengaruhinya adalah pengaruh keluarga seperti keterbukaan keluarga,
komunikasi keluarga, dsb. Maka, guru yang mengajarkan matematika dengan hafalan
berarti guru tersebut menggunakan pendekatan mitos. Matematika di sekolah gagal
karena siswa telah terampas intuisinya. Contoh ketika ditanya apakah itu dua
jawabannnya adalah 1+1, 2x1, 3-1, dsb. Padahal secara intusi manusia punya dua
telinga dua tangan. Karena definisi kita kehilangan intuisi. Bahkan kasih
sayang dan doa butuh intuisi. Besar, kecil, panjang, pendek, lebar, sempit,
merupakan intuisi ruang. Lama dan sebentar merupakan intuisi waktu. Oleh karena
itu, dalam membelajarkan matematika di sekolah khusunya sekolah dasar dan SMP,
guru harus mempertimbangkan intuisi siswa agar intuisi siswa tidak terampas. Jika
intuisi siswa terampas, yang akan terjadi adalah kekacauan pada masa mendatang.
Implikasi dari inusi ini adalah bahwa sebaiknya kita memandang pendidikan
matematika di sekolah bukan sebagai ilmu namun sebagai kegiatan, sehingga
matematika merupakan kegiatan. Kegiatan mencari pola,
kegiatan menyelesaikan masalah, kegiatan investigasi, dan kegiatan
berkomunikasi. Hal ini agar intuisi semakin berkembang.
Dalam prakteknya, guru harus dapat menjadi fasilitator
yang baik bagi siswa. seperti yang kita ketahui, terdapat dua cara untuk mengenal sesuatu yaitu a priori dan posteriori. A priori
berarti mengenal dengan perantara orang lain sedangkan posteriori berarti mengenal dengan melihat dan bertemu secara
langsung. Jadi menurut saya, sebagai fasilitator yang baik sebisa mungkin guru
mengenalkan ilmu pengetahuan secara apriori
maupun posteriori misalnya dengan
menggunakan pendekatan matematika realistik (pada pembelajaran matematika)
khususnya bagi siswa tingkat rendah.Siswa bukanlah bukanlah objek yang hanya dapat menunggu transfer
pengetahuan dari guru. Guru harus dapat menciptakan kegiatan
pembelajaran yang dapat menumbuhkan kembali intuisi siswa dalam belajar
matematika serta materi yang
dipelajari adalah matematika sekolah, bukan matematika
formal. Guru dapat menerapkan berbagai macam metode
pembelajaran yang bertujuan untuk mengonstruksi pemahaman siswa, sehingga siswa
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.
Dalam budaya jawa, terdapat beberapa
orang yang perlu diruwat supaya sadar terhadap dirinya sendiri. Orang-orang yang
perlu diruwat itu misalnya adalah orang yang sering mengalami kecelakaan, orang
yang sering sakit, anak semawat wayang, dsb. Dengan mempelajari filsafat, saya
menjadi tahu bahwa ruwatan jaman sekarang adalah dengan mempelajari filsafat
supaya dapat mengetahui diri kita sendiri. Dengan belajar filsafat kita akan
memikirkan apa yang kita pikirkan. Memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada
sehingga kita akan sadar terhadap diri kita sendiri.
Seperti yang bapak Marsigit ungkapkan, salah satu bahayanya
orang berfilsafat adalah tidak komprehensif, parsial, atau sepenggal-sepenggal.
Dalam belajar filsafat kita harus selalu memikirkan kontradiksinya. Sebagai contoh
ketika kita mengatakan matematika itu adalah agama. Jika hanya membaca sampai
kalimat tersebut maka akan terjadi kebingungan maka kita harus meneruskan
pembelajaran kita. Sejatinya, matematika dianggap agama terjadi pada masa
Phytagoras karena pada masa itu belum ada agama. Dengan adanya bahaya tersebut
maka sebisa mungkin kita mempelajari filsafat secara menyeluruh. Menyeluruh tidak
berarti semua, karena ilmu itu tidak terbatas dan yang dapat menguasai seluruh
ilmu hanyalah Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar