Senin, 01 Oktober 2012

Refleksi kuliah filsafat pertemuan pertama : Filsafat, Bangunan Fikiran Penuh Kebebasan Dengan Hati Yang Tak Pernah Tidur.


Filsafat,  Bangunan Fikiran Penuh Kebebasan Dengan Hati Yang Tak Pernah Tidur.
Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (09301241027)
Kelas P.Mat Bilingual 2009
Filsafat. Pertama mendengar kata itu terasa asing dan menakutkan. Hal pertama yang muncul ketika mendengar kata filsafat adalah kalimat yang memusingkan, yang bahkan tidak diketahui makna sebenarnya. Dalam perkuliahan filsafat di pmatbil 09 beberapa hari yang lalu, bapak Marsigit memperkenalkan filsafat kepada kami. Bapak marsigit mendefiniskan filsafat sebagai olah pikir. Filsafat itu hidup, dan filsafat itu bebas.
Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Jikalau dilihat dari bahasa, refleksif memiliki arti pantulan. Jadi filsafat merupakan olah pikir dari apa yang kita pikirkan. Sejatinya, setiap saat manusia selalu berfikir. Tapi tidak setiap apa yang kita pikirkan merupakan olah pikir karena apa yang kita pikirkan belum tentu bermakna, belum tentu pemikiran yang mendalam.
Filsafat itu hidup. Apa sebernarnya makna kata hidup? Bagi saya, hidup itu berkembang. Hidup itu jikalau keberadaan kita diakui oleh diri kita sendiri maupun orang lain. Begitu juga dengan filsafat yang selalu berkembang dengan bebas sesuai dengan pola pikir masing-masing individu yang sejatinya jarang sekali memiliki persamaan. Maka dari itu, filsafat itu bebas. Bahkan dalam filsafat kita sering menemukan hal-hal yang saling kontradiktiof satu sama lain. filsafat merupakan pengembaraan pikiran kita mengenai hakekat kehidupan, hakekat diri kita sendiri, dan hakekat-hakekat yang lainnya.
Bapak marsigit menjelaskan asumsi-asumsi apa saja yang beliau percayakan kepada kami saat kami belajar filsafat, salah satunya adalah bahwa kami telah dewasa. Bagi saya, dewasa berarti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Muncul suatu pertanyaan, bukankah apa yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain? bukankah apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain? Namun saya kembali ingat pesan bapak Marsigit bahwa dalam berfilsafat kita harus berpegang teguh pada hati kita. Sejatinya hati kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun lagi-lagi muncul suatu pertanyaan, bukankah hati itu seperti cuaca? Yang bisa berubah sewaktu-waktu. Sedih, bahagia, resah, sesak yang bahkan bisa berubah dengan cepatnya tanpa rencana. Jadi, bolehkah kita berfilsafat jikalau hati sedang merasa resah, sedang merasa bahwa Tuhan tidak terlalu adil terhadap kita?
Sejatinya, berfilsafat itu bukan akan menyesatkan kita namun akan mempertajam hati dan pikiran kita. jika kita selalu berpegang pada hati kita yaitu hati yang percaya keberadaan Tuhan. Namun bagaimana dengan orang atheis? Apakah kita boleh mempercayai filsafat orang atheis?
Setelah mengikuti kuliah filsafat ini, terdapat sedikit penerangan pada diri saya tentang filsafat. Filsafat yang awalnya sangat asing terasa lebih familiar serta ketakutan terhadap filsafat menjadi berkurang. Untuk berfilsafat bukanlah hal yang mudah. Tapi sesuatu yang tidak mudah itu akan menjadi lebih ringan jika kita terus berusaha.
Pertanyaan:
1.      Bolehkah kita berfilsafat jikalau hati sedang merasa resah
2.      Apakah kita boleh mempercayai filsafat orang atheis yang bahkan tidak mempercayai keberadaan Tuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar