Filsafat, Bangunan Fikiran Penuh Kebebasan Dengan Hati
Yang Tak Pernah Tidur.
Oleh Nurul Husnah Mustika Sari (09301241027)
Kelas P.Mat Bilingual 2009
Filsafat. Pertama mendengar kata itu terasa asing dan menakutkan. Hal pertama
yang muncul ketika mendengar kata filsafat adalah kalimat yang memusingkan,
yang bahkan tidak diketahui makna sebenarnya. Dalam perkuliahan filsafat di
pmatbil 09 beberapa hari yang lalu, bapak Marsigit memperkenalkan filsafat
kepada kami. Bapak marsigit mendefiniskan filsafat sebagai olah pikir. Filsafat
itu hidup, dan filsafat itu bebas.
Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Jikalau dilihat dari bahasa,
refleksif memiliki arti pantulan. Jadi filsafat merupakan olah pikir dari apa
yang kita pikirkan. Sejatinya, setiap saat manusia selalu berfikir. Tapi tidak
setiap apa yang kita pikirkan merupakan olah pikir karena apa yang kita
pikirkan belum tentu bermakna, belum tentu pemikiran yang mendalam.
Filsafat itu hidup. Apa sebernarnya makna kata hidup? Bagi saya, hidup itu
berkembang. Hidup itu jikalau keberadaan kita diakui oleh diri kita sendiri
maupun orang lain. Begitu juga dengan filsafat yang selalu berkembang dengan
bebas sesuai dengan pola pikir masing-masing individu yang sejatinya jarang
sekali memiliki persamaan. Maka dari itu, filsafat itu bebas. Bahkan dalam
filsafat kita sering menemukan hal-hal yang saling kontradiktiof satu sama
lain. filsafat merupakan pengembaraan pikiran kita mengenai hakekat kehidupan,
hakekat diri kita sendiri, dan hakekat-hakekat yang lainnya.
Bapak marsigit menjelaskan asumsi-asumsi apa saja yang beliau percayakan
kepada kami saat kami belajar filsafat, salah satunya adalah bahwa kami telah
dewasa. Bagi saya, dewasa berarti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Muncul suatu pertanyaan, bukankah
apa yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain? bukankah apa
yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain? Namun saya kembali
ingat pesan bapak Marsigit bahwa dalam berfilsafat kita harus berpegang teguh
pada hati kita. Sejatinya hati kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun
lagi-lagi muncul suatu pertanyaan, bukankah hati itu seperti cuaca? Yang bisa
berubah sewaktu-waktu. Sedih, bahagia, resah, sesak yang bahkan bisa berubah
dengan cepatnya tanpa rencana. Jadi, bolehkah kita berfilsafat jikalau hati
sedang merasa resah, sedang merasa bahwa Tuhan tidak terlalu adil terhadap
kita?
Sejatinya, berfilsafat itu bukan akan menyesatkan kita namun akan
mempertajam hati dan pikiran kita. jika kita selalu berpegang pada hati kita
yaitu hati yang percaya keberadaan Tuhan. Namun bagaimana dengan orang atheis? Apakah
kita boleh mempercayai filsafat orang atheis?
Setelah mengikuti kuliah filsafat ini, terdapat sedikit penerangan pada
diri saya tentang filsafat. Filsafat yang awalnya sangat asing terasa lebih
familiar serta ketakutan terhadap filsafat menjadi berkurang. Untuk berfilsafat
bukanlah hal yang mudah. Tapi sesuatu yang tidak mudah itu akan menjadi lebih
ringan jika kita terus berusaha.
Pertanyaan:
1.
Bolehkah kita berfilsafat jikalau hati sedang merasa
resah
2. Apakah kita
boleh mempercayai filsafat orang atheis yang bahkan tidak mempercayai
keberadaan Tuhan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar